LEWOLEBA, INDONESIASURYA.COM — Menjelang peringatan 27 tahun berdirinya Kabupaten Lembata sebagai daerah otonom, Ketua DPD II Partai Golkar Lembata, Alexander Dominggo Atawolo, menyampaikan refleksi mendalam sekaligus catatan kritis. Selama hampir tiga dekade, Lembata telah dinahkodai oleh 10 orang pemimpin, namun kesinambungan pembangunan belum terwujud sebagaimana harapan masyarakat.
Jejak 27 Tahun: Sepuluh Pemimpin, Lima Wakil Bupati
Alex menyusun urutan kepemimpinan Lembata sejak masa awal otonomi:
Penjabat & Bupati:
1. Stanis Atawolo — Penjabat Bupati masa awal persiapan hingga Lembata jadi wilayah otonom
2. Petrus Boliona Keraf — Penjabat Bupati masa persiapan pemilihan bupati definitif yang ketika itu, bupati dipilih oleh anggota DPRD.
3. Andreas Duli Manuk — Bupati definitif pertama, dua periode
4. Eliaser Yentji Sunur — Periode pertama
5. Petrus Sinun Manuk — Penjabat Bupati
6. Eliaser Yentji Sunur — Periode kedua (wafat di tengah jabatan)
7. Thomas Ola Langoday — Menggantikan hingga akhir masa jabatan
8. Matheo Tan, Marianus Jawa, Paskalis Ola Tapobali — Tiga Penjabat Bupati berturut-turut
9. Petrus Kanisius Tuaq — Bupati definitif periode 2024–sekarang
Lembata juga diiringi lima Wakil Bupati: Felix Kobun, Andres Nula Liliweri, Viktor Mado Watun, Thomas Ola Langoday, dan Muhamad Nasir.
"Banyak hal memang telah berubah, namun belum menghasilkan kemajuan yang dirasakan merata oleh seluruh masyarakat. Masih ada tugas pelayanan pembangunan yang patut ditelaah secara saksama dan berhasil guna," ujar Alex.
Program Sering Terputus Saat Ganti Pimpinan
Kelemahan mendasar yang disoroti adalah tidak adanya keberlanjutan program saat pergantian pimpinan terjadi seperti pengembangan pariwisata, di kepemimpinan sebelumnya tidak dilanjutkan pada pemimpin berikut.
"Bupati jangan lagi berpikir wilayah. Jika begitu, akan terasa dampak kekeliruannya. Hari ini kita bicara Satu Lembata. Tidak ada lagi pembagian wilayah. Penderitaan masyarakat di Tobitani, Wade, atau Alapatadei juga harus dirasakan oleh seluruh Lembata," tegasnya.
Musibah Sebelum HUT: Teguran untuk Perbaiki Infrastruktur
Terjadinya musibah satu minggu sebelum peringatan otonomi dinilai seharusnya membuka mata pemerintah bahwa infrastruktur belum cukup tangguh. Ruas jalan yang masih memprihatinkan:
• Jalan Lingkar Ile Ape terutama jalur Ile Ape timur yang belum tersentuh perbaikan sejak bencana seroja dan letusan Ile Lewotolok beberapa tahun yang lalu.
• Jalan Lerahingga- Banitobo- Lamalela-Danggalagu-Bobu dan jalur Leragere (Ledoblolong & Balurebong) menuju Wade
• Jalan wilayah selatan: Wulandoni, Alapatadei, hingga Atadei — belum tersentuh secara maksimal
• Jalan lingkar Uyelewun yang juga belum mendapat perbaikan secara baik.
• Air weilain belum di optimalkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat d Kedang.
• Jaringan air minum di wilayah Ile Ape agar menjadi perhatian serius untuk di kerjakan.
• Terkait geotermal "Pemerintah harus membuka diri" mendengarkan masukan/pendapat dari semua pihak (stakcholder) dengan tetap menempatkan masyarakat sebagai subjek bukan objek dari rencana pengelolaan tersebut.
"Otonomi bukan hadiah yang jatuh begitu saja. Otonomi adalah hasil perjuangan banyak pihak. Maknanya harus terlihat dalam kerja nyata kita membangun Lembata," ingatnya.
Lembata Tidak Bisa Bangun Sendiri
"Kita butuh komunikasi lintas partai, relasi yang saling menguatkan. Lembata tidak akan maju kalau kita berjalan sendiri-sendiri. Partai yang punya akses ke pusat harus jadi jembatan, bukan sekadar kekuasaan."
Hak Dasar Warga Tetap Pekerjaan Rumah Terbesar
27 tahun berlalu, namun pemenuhan hak dasar masih menjadi prioritas utama: air bersih, jalan layak, penerangan, ketersediaan BBM, fungsi Pelabuhan Veri, pendidikan, dan kesehatan.
"Ada perubahan, tetapi belum terasa merata. Kota harus tertata rapi. Infrastruktur jalan, penerangan, drainase dalam kota dan jembatan harus diutamakan. Semua ini butuh perencanaan yang matang dan langkah kongkrit dalam pelaksanaan, bukan sekadar rencana tertulis."
Alex menutup dengan pesan penting:
"Gagal merencanakan sama dengan merencanakan kegagalan. Mari kita susun rencana yang jelas, berjalan beriringan, dan menjaga kesinambungan pembangunan untuk Satu Lembata yang lebih baik."