LEMBATA — Hasil analisis spasial titik panas menunjukkan total lahan yang diperkirakan terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Lembata, NTT, mencapai 2.372,24 hektare hingga September 2026.
Sebaran Luasan: Mayoritas di Luar Kawasan Hutan
Kepala KPH Kabupaten Lembata, Linus Lawe, menjelaskan rincian data tersebut:
Sementara itu, rincian luas kebakaran di dalam kawasan hutan tercatat di beberapa lokasi berikut:
- Hutan Hadakewa-Labalekang: 520,93 hektare
- Hutan Lewotolo: 132,64 hektare
- Hutan Ile Papar: 20,77 hektare
- Hutan Ile Kedang: 12,50 hektare
- Hutan Ile Mahino: 8,37 hektare
Sebaran di Berbagai Kecamatan
Pembakaran terdeteksi tersebar di sembilan kecamatan, yaitu: Atadei, Buyasuri, Ile Ape, Ile Ape Timur, Lebatukan, Nagawutung, Nubatukan, Omesuri, dan Wulandoni.
Beberapa catatan luas yang cukup signifikan antara lain:
- Desa Wailolong, Kecamatan Omesuri: ±345,30 hektare
- Desa Watukobu, Kecamatan Nubatukan: ±102,64 hektare
- Desa Balurebong, Kecamatan Lebatukan: 123,86 hektare (113,55 hektare di dalam hutan)
- Desa Lamalera: 24,34 hektare di dalam kawasan hutan
Di Kecamatan Ile Ape sendiri, sejumlah desa tercatat terdampak, antara lain Amakaka, Dulitukan, Kolipadan, Lamawara, Muruona, Petuntawa, Riangbao, Tanjung Batu, Waowala, dan Watudiri.
Pentingnya Verifikasi Lapangan & Pencegahan
Data ini bersumber dari hasil analisis satelit NASA (N20) berdasarkan titik panas (hotspot). Oleh karena itu, verifikasi langsung ke lapangan sangat diperlukan untuk memastikan luasan yang benar-benar terbakar serta penyebab pastinya.
"Pemantauan titik panas perlu diikuti dengan pemeriksaan langsung di lokasi. Upaya pencegahan dan penanganan harus melibatkan pemerintah daerah, instansi terkait, dan masyarakat," tegas Linus Lawe.
Perhatian khusus diarahkan pada kawasan hutan yang memiliki fungsi vital bagi perlindungan lingkungan, tata air, dan keanekaragaman hayati di Lembata.
Sumber: Analisis spasial data satelit NASA (N20) per September 2026 (tim)