Lembata - Kunjungan kerja senator anggelius wake keko ke desa amakaka, disambut meriah didepan gapura yang dibangun khusus untuk hal tersebut, namun sayangnya, harus korbankan fasilitas negara.
Kunjungan kerja AWK untuk menyerap aspirasi dan membagi beras Bulog tersebut dinodahi dengan tindak pidana pengrusakan fasilitas negara.
Median jalan yang membagi dua jalur jalan di kampung Lewotolok desa amakaka, kecamatan Ileape, kabupaten Lembata provinsi Nusa tenggara timur, dipecahkan tanpa izin untuk membuat gapura penyambutan bagi senator.
Ferdinandus Koda mantan ketua DPRD Lembata kepada media ini secara terang mengatakan, bahwa median jalan itu dibongkar tanpa izin untuk membuat gapura sambut kedatangan senator AWK.
Awalnya mereka sampaikan saya bahwa bongkar untuk jalan air karena saat hujan selalu tergenang tapi saya bilang kita sudah bongkar sebagian untuk jalan air tinggal pasang paralon ke laut. Inikan sudah sejak 2019, kenapa sekarang baru ribut soal air? Ternyata setelah saya cari tahu median jalan ini dibongkar untuk Bagun gapura sambut anggota DPD RI angelo wake kako cerita Koda.
Ia melanjutkan bahwa, pembongkaran itu untuk persiapan kedatangan anggota DPD RI, jadi saya tanya anggota DPD bawa uang berapa miliar untuk daerah, untuk kampung sampai median jalan harus dikorbankan? Inikan hanya acara seremonial ucapan terimakasih karena kemarin dia dipilih di Lewotolok, inikan muatan politik saja, kenapa kamu bongkar jalan sampai pohon yang sudah rindang di dekat patung itu dikasi rata semua.
Ini tindakan brutal yag dilakukan kepala desa dan aparat juga beberapa masyarakat ujar Ferdy Koda.
Mereka malah melawan saya, menanyakan siapa saya? Kapasitas saya sebagai apa? Lah saya cegah mereka melakukan tindakan pidana, apalagi ini kampung saya, jadi sebagai anak tanah saya berkepentingan.
Saya sudah laporkan ke bupati dan wakil, jadi nanti saya juga akan buat laporan polisi agar mereka dihajar oleh undang-undang pungkas Ferdi Koda.