LEWOLEBA, INDONESIASURYA.COM — Persaingan di ajang Liga II PSSI Kabupaten Lembata memanas di luar lapangan. KKO FC resmi melayangkan pengaduan terhadap Asosiasi Kabupaten (Askab) PSSI Lembata yang dinilai tidak profesional dalam menangani persoalan pertandingan melawan Tim Hidup Dulitukan, di mana keputusan wasit baru keluar empat hari setelah laga berlangsung.
KKO FC: Aturan Harus Dihormati, Jangan Ada Faktor Lain
Dalam pertemuan di askab Lembata (20/10/2026) antara Askab PSSI Lembata dan KKO FC, Syukur Arsad, Kapten tim KKO FC menegaskan bahwa pihaknya sangat menjaga tertib administrasi, namun justru Askab dinilai melanggar hal tersebut.
"Askab mengeluarkan jadwal pertandingan padahal persoalan antara Hidup dan KKO belum tuntas. Ada persoalan yang belum diselesaikan, tapi Askab mau terus berjalan. Dasar hukum apa KKO dinyatakan gugur? Di mana berita acaranya? Langkah Komdis Askab seperti apa?" tanya Syukur dalam pernyataannya.
Syukur menjelaskan, saat wasit memutuskan penalti untuk KKO, pihak lawan memprotes. Seharusnya, jika wasit ragu, dapat melihat rekaman video. Wasit sendiri meminta kedua tim bermain sportif tapi kenapa keputusan yang dibuat tidak mencerminkan sportifitas ? keputusan ini berubah tanpa kejelasan kami dirugikan, kami sangat kecewa
"Mestinya hal ini ditegaskan oleh Askab. Kami mau diselesaikan dengan aturan, jangan dipengaruhi faktor lain. Fakta lapangan sudah kami muat dalam surat resmi, kami minta Askab membaca dan mempertimbangkannya. Kami di liga dusun saja administrasinya jelas, bagaimana mungkin Liga sebesar ini administrasinya tidak jelas?" tegasnya.
Syukur meminta Askab bersikap profesional. "Jangan ketemu pemain atau pengurus di jalan lalu langsung buat keputusan. Bagan pertandingan dikeluarkan resmi, tapi pemberitaannya tidak jelas. Askab bicara aturan, tapi justru membangkangi aturan itu sendiri. Membangun sportivitas harus dengan kejujuran, jangan depan lain belakang lain."
Hal senada disampaikan Haris Hasan, Asisten Pelatih KKO FC, pihaknya awalnya percaya ketika persoalan diserahkan ke Komisi Disiplin (Komdis). Meskipun kemudian dikatakan bahwa, belum ada laporan dari wasit tapi kenapa, KKO justru diberitahu harus tetap bertanding. "Kami percaya Komdis bisa mengurus, tapi empat hari kemudian disampaikan KKO harus main padahal persoalan belum selesai," ujarnya.
Sementara itu Penasihat KKO FC, Hasnan Ladopurab menyoroti ketidakkonsistenan proses. "Pertandingan babak 16 besar belum tuntas, tapi jadwal 8 besar sudah jalan. Ada apa sebenarnya? Kesepakatan awal persoalan diserahkan ke Komdis, dan bagi kami persoalan wasit yang tidak tegas ini harus menjadi catatan serius askab. Kami cukup kecewa karena Ini sangat merugikan kami."
Ketua Askab Lembata Gucek Making : Saya Akui Kinerja Perangkat Sangat Jauh dari Harapan
Ketua Askab PSSI Lembata Gucek Making, pada kesempatan tersebut memberikan tanggapan terbuka yang jujur dan mengejutkan banyak pihak.
"Saya lihat videonya, itu jelas penalti. Tapi yang dipakai bukan itu, melainkan keputusan wasit. Saya terima semua masukan dan saya akui dengan jujur — perangkat yang sudah saya SK-kan kerjanya sangat jauh dari harapan. Saya sangat marah, karena masih ada ego masing-masing," ungkap Ketua Askab.
"Saya yakin wasit akan ambil keputusan penalti, tapi saya kaget ketika keputusan berbeda. Namun itu asumsi pribadi saya, karena yang sah tetap keputusan wasit," tambahnya.
Ketua Askab juga mengkritik keras kinerja Komdis. "Komdis masih bekerja dengan ego masing-masing. Ketika ada masalah, justru Askab yang diserang, padahal wasit yang punya ulah. Kami bayar wasit untuk memimpin pertandingan dengan baik. Komite Wasit harus lebih tegas kepada wasit yang lalai."
Ia menegaskan tidak mengeluarkan jadwal lanjutan secara sepihak. "Saya tidak bisa keluarkan jadwal tanpa dasar yang kuat. Yang mengeluarkan jadwal adalah panitia liga, bukan saya. Kini Komdis sudah membatalkan jadwal pertandingan kemarin, dan untuk langkah selanjutnya kami menunggu keputusan dari Asosiasi Provinsi (Asprov) NTT."
"Terkait kinerja Komdis, memang harus banyak dievaluasi, bahkan menurut saya perlu diganti," pungkasnya.
Persoalan ini kini menjadi sorotan seluruh pencinta sepak bola di Lembata. Semua pihak berharap ada penyelesaian yang transparan, berkeadilan, dan mengembalikan kepercayaan terhadap integritas sepak bola di Kabupaten Lembata.