Ungkap Realita Sosial

Logo Banggainesia
Local Edition | | Todays News


Lembata Barometer Benih Misioner, Catatan dari Jambore Sekami 2026

Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro, yang memimpin perayaan Ekaristi penutup, memberikan pesan yang menohok sekaligus apresiatif.

Indonesiasurya
Rabu, 29 April 2026 | 16:39:05 WIB
Foto

PADA – Langit di atas Desa Pada, Kecamatan Nubatukan, mendadak pekat. Hujan turun menderu saat rangkaian Jambore Anak dan Remaja Misioner (Sekami) Dekenat Lembata memasuki babak akhir, Minggu, 26 April 2026.

Namun, di lapangan sepak bola Desa Pada, seribu lebih anak dari 19 paroki tak bergeming. Di bawah guyuran air hujan, mereka menutup simpul tiga hari pencarian jati diri spiritual dengan satu komitmen: menjadi 'misionaris cilik' di tanah Lomblen.

Perhelatan yang digelar sejak 24 April ini bukan sekadar ajang kumpul rutin. Mengusung tema 'One in Christ, United in Mission,' jambore ini menjadi eksperimen sosial sekaligus teologis Gereja Katolik di Lembata untuk menjawab tantangan zaman bagi Generasi Alpha.

Sinyal dari Mimbar Ekaristi

Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro, yang memimpin perayaan Ekaristi penutup, memberikan pesan yang menohok sekaligus apresiatif.

Dalam sambutannya, ia menyebut Lembata bukan sekadar wilayah administratif gerejawi.

“Lembata adalah barometer kegiatan Gereja, sementara dekenat lain adalah termometernya. Lembata selalu memberikan inspirasi baru,” ujar Mgr. Hans Monteiro di hadapan ribuan umat.

Pernyataan Uskup bukan tanpa alasan. Di tengah tren sekularisme digital yang mulai menggerus perhatian remaja di pelosok NTT, Dekenat Lembata justru berhasil memobilisasi seribu anak untuk masuk ke dalam 'karantina' iman selama tiga hari. 

Di sana, mereka tidak hanya diajak berdoa, tetapi juga melakukan aksi nyata, mengumpulkan derma untuk seminaris hingga aksi kebersihan lingkungan.

Visi 'Taan Tou' dan Kolaborasi Sipil

Bupati Lembata, P. Kanisius Tuaq, yang hadir bersama Ketua TP PKK Ny. Ursula Surat Bayo, menangkap sinyal ini sebagai benteng karakter. 

Dalam sambutannya, Bupati Kanis Tuaq menyoroti kerentanan anak-anak terhadap perubahan nilai sosial dan teknologi.

“Jika kita tidak hadir membimbing mereka, mereka akan mencari arah sendiri yang belum tentu sesuai nilai kita,” kata Bupati Kanis. 

Ia menekankan bahwa kehadiran pemerintah dalam mendukung Jambore Sekami adalah bentuk investasi sumber daya manusia. 

Spirit Taan Tou (bersatu padu) yang digaungkan Uskup Monteiro, menurut Bupati Kanis Tuaq, harus diterjemahkan dalam menciptakan lingkungan yang aman dan sehat bagi tumbuh kembang anak.

Apresiasi khusus juga dialamatkan kepada Paroki St. Fransiskus de Sales Pada. Sebagai paroki 'bungsu' yang baru berusia tujuh tahun dengan jumlah umat hanya sekitar 2 ribu jiwa, keberhasilan mereka menjadi tuan rumah bagi ribuan peserta dipuji sebagai manifestasi kemandirian umat yang luar biasa.

Dominasi Lamahora dan Obor Panggilan

Di balik khidmatnya liturgi, jambore ini juga menjadi panggung kreativitas. Berbagai kompetisi digelar, mulai dari paduan suara hingga lomba mewarnai. Hasilnya, Paroki Lamahora tampil dominan dengan menyabet gelar juara pertama di seluruh kategori perlombaan.

Namun, momen paling krusial terjadi pada Jumat malam, 24 April. Di tengah kegelapan, ritual pembakaran 'Obor Panggilan' dilaksanakan. Para peserta diajak mendengarkan kesaksian hidup bakti dari para imam, suster, dan frater. 

Ritual ini adalah upaya gereja melakukan regenerasi di tengah krisis panggilan yang mulai melanda dunia Barat, sebuah upaya untuk memastikan 'ladang Tuhan' di NTT tetap memiliki pekerja di masa depan.

Resonansi 2D2K

Jambore ini berakhir dengan seruan semangat 2D2K: Doa, Derma, Kurban, dan Kesaksian. Semboyan Serikat Kepausan Anak Misioner ini diharapkan tidak berhenti di lapangan Desa Pada.

“Jangan biarkan api semangat ini padam. Bawa pulang, nyalakan di kampung, di sekolah, dan di lingkungan masing-masing,” pesan Bupati Kanis Tuaq sebelum meninggalkan lokasi.

Meski acara telah usai, tantangan sesungguhnya bagi Dekenat Lembata baru dimulai, memastikan seribu lebih anak ini benar-benar menjadi 'garam dan terang' di tengah gempuran arus informasi, bukan sekadar menjadi peserta seremonial tahunan. (Prokompimkablembata)


Bagikan

KOMENTAR (0)

Alamat Email anda tidak akan ditampilkan. Wajib diisi untuk kolom *

Berita Foto

Berita Terkini

Usai Pencangan Sensus Ekonomi, Petugas BPS Langsung Terjun Lapangan

Para tugas Sensus Ekonomi (SE) yang diterjunkan ke lapangan bertugas untuk mengumpulkan data akurat mengenai berbagai ke

| Senin, 15 Juni 2026
Pencanangan Sensus Ekonomi 2026, BPS Harap Masyarakat Berikan Data Yang Benar

Leonard Lalang mengatakan, Sensus ini bertujuan menyediakan data dasar yang akurat dan komprehensif mengenai seluruh keg

| Senin, 15 Juni 2026
Terapkan Irigasi Tetes, Desa Bean di Lembata Dijadikan Model Pertanian Efisien

Sistem ini sangat efisien. Selain mampu menghemat penggunaan air secara signifikan, irigasi tetes juga menjaga kelembapa

| Minggu, 14 Juni 2026
Mundur Setelah Sampaikan LKPJ, Petrus Gero Diganti Alexander Atawolo Jadi Ketua DPD II Golkar Lembata

Kami bicara bukan tentang kompetisi tapi tentang kerja, untuk membesarkan Golkar. Kami bicara tentang persaudaraan, buka

| Minggu, 14 Juni 2026
GMNI Sikka Tolak Pembangunan Fila Dan Galangan Kapal Di Wair Terang Maumere

GMNI melalui Iko Gobang menilai sosialisasi pada, Senin 13 Juni 2026 terkait, Edukasi Usaha Dan Atau / Kegiatan Pemban

| Sabtu, 13 Juni 2026
Albertus Greg Tan, Orang Muda Yang Bantu Bangun 215 Gereja Seluruh Indonesia

Ini tentang keikhlasan berbagi, Greg telah menjadi contoh yang baik bagi semua kita" ujar Ciku.

| Minggu, 14 Juni 2026
Indeks Berita
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2026 Indonesia Surya
Allright Reserved
CONTACT US Lembata
Lembata, Nusa Tenggara Timur
Telp: +6281334640390
INDONESIA SURYA
Viewers Now: 9