LEWOLEBA — Kabupaten Lembata kini telah mencapai swasembada komoditas tomat. Kualitas dan volume panen yang terus meningkat membuat kebutuhan dalam daerah terpenuhi, sekaligus menekan pasokan tomat dari luar daerah. Dinas Pertanian Kabupaten Lembata terus memperkuat peran penyuluh di seluruh desa untuk menjaga capaian ini sekaligus mengembangkan komoditas lain.
Ade Hasan Yusuf Penjabat (PLT) Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Lembata menjelaskan, keberhasilan tomat menjadi modal untuk terus mengembangkan komoditas lainnya.
Terkait kegiatan pada dinas pemuda dan olahraga (porabud) peran dinas pertanian murni merupakan pendampingan teknis dari penyuluh, bukan pengelolaan langsung dari Dinas Pertanian.
Kami fokus pada petani dan kelompok tani agar semangat bertanam dengan pendampingan yang baik bisa meningkatkan hasil lebih maksimal.
Saat ini Lembata swasembada tomat, kita diperkirakan bertahan hingga Desember 2026. Kebutuhan tomat terus meningkat sejalan dengan berjalannya program Makan Bergizi Gratis (MBG). Semakin banyak satuan pelaksana MBG beroperasi, semakin tinggi pula permintaan di hulu, sehingga produksi di hilir harus terus didorong.
Selain tomat, semangka Lembata juga sudah mampu memenuhi kebutuhan lokal dan bahkan menembus pasar Kota Kupang.
"Kita kawal betul kualitasnya — mulai berat buah, rasa, hingga tampilan agar tetap bersaing. Petani semakin bergairah karena hasil panen mereka terserap pasar dengan baik," tambahnya.
Pendampingan dari penyuluh pertanian dilakukan secara berkelanjutan, meskipun tantangan di lapangan masih ada.
"Kendala memang ada dan prosesnya pasang surut, namun kami terus berupaya agar produksi tidak hanya mencukupi secara kuantitas, tetapi juga petani mendapatkan harga yang layak dan uang hasil panen tetap berputar di Lembata," tegasnya.
Pemerintah daerah berharap semua pihak terus bersinergi menjaga capaian swasembada pangan ini, sehingga kemandirian pangan di Lembata semakin kokoh.