Ungkap Realita Sosial

Logo Banggainesia
Local Edition | | Todays News


Paradoks Lembata: Pengangguran Turun, Perantau Naik. Donatus Asan Lamabelawa: 'Ini Sihir Statistik atau Luka Ekonomi?

BPS punya kode etik. Pemda punya kewajiban konstitusi. Rakyat punya hak konstitusional Pasal 28F UUD 1945 untuk mendapatkan informasi yang benar.

Indonesiasurya
Kamis, 04 Juni 2026 | 13:08:19 WIB
Foto

Yogyakarta, 3 Juni 2026 - Kabupaten Lembata sedang menari di atas paradoks. Di atas panggung, Pemda Kabupaten Lembata di bawah kepemimpinan Bupati Petrus Kanisius Tuaq dan Wakil Bupati Muhamad Nasir memamerkan prestasi: angka pengangguran menurun. Di bawah panggung, realitas lain bermain: kapal laut ke Kupang dan Batam penuh sesak anak muda Lembata.

Paradoks ini dibedah oleh Donatus Asan Lamabelawa, aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia GMNI Cabang Yogyakarta yang juga mahasiswa Hukum di Universitas Janabdra Yogyakarta, "Ini anomali ekonomi yang menampar akal sehat. Hukum ekonomi dasar bilang, "pengangguran turun karena penyerapan kerja naik", Tapi hukum sosial bilang: perantauan naik karena harapan di kampung mati," ujarnya tajam, Selasa 3 Juni 2026

Donatus menyebut situasi ini sebagai "sihir statistik". "Angka bisa disulap. Pengangguran turun bukan selalu karena kerja bertambah. Bisa karena orang putus asa berhenti melapor ke Disnaker. Bisa karena mereka dicoret dari data setelah KTP-nya pindah ke Malaysia," analisisnya dingin.

"Visi 'Lembata Mandiri' 2025-2030 yang diusung 6 Misi besar kini diuji paling keras oleh migrasi. Mandiri artinya berdikari di tanah sendiri. Fakta hari ini: anak Lembata paling 'mandiri' justru di rantau, karena di rumahnya sendiri ia tidak diberi ruang hidup," katanya menusuk.

Ia mengurai kontradiksi ke setiap misi. Misi "Lembata Subur" pincang ketika lahan pertanian ditinggal pemiliknya pergi jadi kuli sawit. Misi "Lembata Smart" runtuh ketika otak-otak muda terbaik Lembata disedot industri di luar. Misi "Lembata Sehat" gagal ketika yang sakit di kampung hanya bertemu dokter tanpa obat.

"Angka pengangguran adalah foto. Migrasi adalah film. Foto bisa diatur angle-nya agar terlihat bagus. Film tidak bisa bohong: ia merekam tangis ibu melepas anak di pelabuhan Waijarang yang justru rusak," ujar Donatus dengan metafora tajam.

Ia menuntut pembedahan metodologi BPS. "Kami tidak menuduh bohong. Kami menuntut jujur. Tolong jelaskan ke publik: TPT Lembata dihitung pakai standar apa? Apakah pekerja 1 jam seminggu dihitung 'bekerja'? Apakah PMI ilegal dihitung 'tidak menganggur' karena sudah 'bekerja' di rantau?" sorotnya.

"BPS punya kode etik. Pemda punya kewajiban konstitusi. Rakyat punya hak konstitusional Pasal 28F UUD 1945 untuk mendapatkan informasi yang benar. Jangan berikan kami angka, berikan kami fakta," tegasnya.

Donatus lalu mengaitkan dengan krisis infrastruktur. "Pelabuhan Waijarang retak itu bukan sekadar besi patah. Itu simbol negara gagal menjaga urat nadi ekonomi. Investor tidak akan masuk, UMKM tidak akan tumbuh, kerja baru tidak akan lahir dari pelabuhan yang sekarat," ujarnya.

Krisis kesehatan ia sebut sebagai "pukulan telak kedua". "Ketika Puskesmas hanya punya Paracetamol, negara sedang mengirim pesan halus ke rakyatnya: 'Sakitmu urusanmu'. Pesan itu yang mendorong anak muda berpikir: kalau di kampung mati perlahan, lebih baik mati-matian di rantau," katanya.

"Ini lingkaran setan struktural: infrastruktur rusak → ekonomi lesu → kerja sulit → orang pergi → pajak daerah turun → anggaran pembangunan makin minim → infrastruktur makin rusak. Di titik mana Bupati-Wabup mau memotong rantai ini?" tanyanya kritis.

Sebagai aktivis GMNI, Donatus menolak apatisme. "Marwah GMNI adalah berpikir kerakyatan. Kami tidak datang membawa kebencian. Kami datang membawa cermin. Cermin ini memantulkan wajah Lembata yang sebenarnya, bukan wajah Lembata versi baliho," ucapnya.

Ia membongkar mitos "prestasi". "Prestasi bukan ketika grafik turun di slide presentasi. Prestasi adalah ketika jumlah rumah kosong di desa berkurang karena penghuninya pulang dari rantau. Prestasi adalah ketika sekolah SD tidak terancam tutup karena muridnya habis merantau," jelasnya.

"Data Dukcapil tidak bisa bohong. Data BP2MI tidak bisa bohong. Data antrean kapal PELNI tidak bisa bohong. Jika ketiga data itu bertentangan dengan data TPT, maka yang salah bukan rakyat. Yang salah adalah cara kita membaca data," analisisnya.

Donatus menantang Pemda untuk uji publik. "Adakan 'Sidang Terbuka Data Ketenagakerjaan'. Undang kami, GMNI. Undang HMI, BEM, akademisi, pers. Bedah bersama: angka pengangguran turun berapa, tapi KTP pindah keluar berapa? Jangan takut debat data. Takutlah pada diam rakyat," desaknya.

Ia mengingatkan konsekuensi hukum. "UU 23/2014 tentang Pemda jelas: kepala daerah wajib menyejahterakan. UU 17/2023 tentang Kesehatan jelas: negara wajib penuhi SPM. Jika gagal, itu bukan sekadar salah kebijakan. Itu potensi Perbuatan Melawan Hukum oleh negara terhadap warganya," tegasnya.

"20 Program Prioritas Unggulan itu bukan catatan indah untuk arsip. Itu utang politik. Setiap anak muda yang berangkat ke rantau adalah satu cicilan utang yang belum dibayar," katanya.

Sebagai penutup, Donatus menggunakan logika Bung Karno. "Bung Karno bilang: gantungkan cita-citamu setinggi langit. Tapi jangan lupa: pondasi cita-cita itu adalah perut kenyang, badan sehat, dan kerja layak di tanah air sendiri. Jangan bangun langit tanpa pondasi," pungkasnya.

"Jika pengangguran benar-benar turun karena kerja layak tercipta, maka kami barisan paling depan yang akan menyanyikan puji-pujian. Tapi jika turun karena rakyatnya diusir kemiskinan ke rantau, maka kami barisan paling depan yang akan menagih," tutupnya.


Bagikan

KOMENTAR (0)

Alamat Email anda tidak akan ditampilkan. Wajib diisi untuk kolom *

Berita Foto

Berita Terkini

PLN UIP Nusra Gelar Rapat Konsinyering, Kinerja Semester I 2026 Lampaui Target

General Manager PT PLN (Persero) UIP Nusra, RDW. Manurung, menyampaikan bahwa Nilai Kinerja Organisasi (NKO) Semester I

| Minggu, 19 Juli 2026
Listan Ingatkan Waspadai "Penumpang Gelap" dalam Perjuangan Provinsi Luwu Raya!

semakin dekat sebuah cita-cita diwujudkan, semakin besar pula kemungkinan munculnya pihak-pihak yang mencoba mengganggu

| Minggu, 19 Juli 2026
Tingkatkan Pelayanan Kepada Pasien, RSU Bukit Lewoleba Lembata, Padukan dua Dokter Muda

"Kami dua bulan tanpa dokter spesialis dan sekarang kita sudah punya"ungkap Mantan Deken Lembata dengan senyum.

| Sabtu, 18 Juli 2026
Mahasiswa KKN Unwira Kupang Gelar Sosialisasi Anti - Cyberbullying di SMPN 1 Lewolema

Langkah preventif ini diharapkan mampu mempertahankan "rekor bersih" SMP Negeri 1 Lewolema dari kasus perundungan secara

| Jumat, 17 Juli 2026
Penumpang KM. Lambelu Loncat dari Kapal, Tim SAR Lakukan Pencarian di Perairan Pulau Pemana Sikka.

Lokasi kejadian diperkirakan berada di sekitar Perairan Pulau Pemana, Kabupaten Sikka, NTT, pada koordinat 8° 22.310'S

| Kamis, 16 Juli 2026
Indeks Berita
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2026 Indonesia Surya
Allright Reserved
CONTACT US Lembata
Lembata, Nusa Tenggara Timur
Telp: +6281334640390
INDONESIA SURYA
Viewers Now: 11