Lewoleba — Banjir yang merendam hampir separuh wilayah Kota Lewoleba, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, pada Selasa (28/4/2026), tidak hanya dipicu curah hujan tinggi, tetapi juga memperlihatkan persoalan lama yang belum tertangani: sedimentasi parah dan penumpukan sampah di saluran air.
Hujan deras selama sekitar dua jam cukup untuk melumpuhkan sistem drainase kota, memaksa air meluap dari kali dan selokan hingga menggenangi rumah-rumah warga.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lembata mencatat sedikitnya 107 rumah terdampak, dua fasilitas umum rusak, serta satu korban jiwa di Desa Atulaleng, Kecamatan Buyasuri.
Wilayah dengan dampak terparah berada di Kelurahan Lewoleba Timur, Selandoro, dan Lewoleba Tengah, disusul sejumlah titik di Lewoleba Barat dan Lewoleba Selatan.
Pemerintah daerah menetapkan status tanggap bencana menyusul luasnya dampak yang ditimbulkan.
Hasil peninjauan pemerintah sehari setelah kejadian menunjukkan bahwa kapasitas saluran air di dalam kota telah jauh berkurang.
Banyak drainase tersumbat sampah rumah tangga, sementara sedimentasi menumpuk di bantaran kali dan kanal utama.
Kondisi ini menyebabkan air hujan yang seharusnya mengalir ke laut justru tertahan dan meluap ke permukiman warga.
Penelusuran hingga ke wilayah hulu mengungkap persoalan yang lebih kompleks.
Di kawasan cekdam Komak, yang berbatasan dengan Desa Lite Ulumado dan Nuba Mado, ditemukan pendangkalan serius di daerah aliran air, disertai pertumbuhan vegetasi liar yang mempersempit jalur aliran.
Selain itu, terdapat jalur air terbuka tanpa pengendalian yang diduga memperbesar debit air yang masuk ke pusat kota saat hujan deras.
Di sisi lain, kondisi di hilir tidak kalah memprihatinkan. Di bantaran Kali Muko Ona, Kelurahan Lewoleba Timur, aliran air tersendat akibat desain drainase yang berbelok tajam tanpa jalur distribusi yang memadai.
Sedimentasi yang menutup saluran membuat air kiriman tidak tertampung dan akhirnya meluap ke rumah warga.
Begitupun sebaliknya kondisi yang hampir serupa terjadi di kanal utama dalam kota yang merupakan jalur kiriman air dari Cekdam Komak dan sekitarnya.
Banyaknya sampah rumah tangga di bantaran kali dan di beberapa titik kanal terjadi sedimentasi serta beberapa bangunan yang dibangun di tepian kanal sehingga memaksa air over capasity yang berujung pada luapan banjir yang menerjang rumah warga kota baru dan sekitarnya.
Sejumlah rumah masih dipenuhi lumpur, sementara warga berupaya membersihkan sisa banjir dengan peralatan seadanya.
Bupati Lembata P. Kanisius Tuaq bersama Wakil Bupati Muhamad Nasir telah memerintahkan pengerukan sedimentasi di titik-titik kritis serta pembersihan menyeluruh saluran drainase.
Pemerintah juga mengerahkan alat berat di sejumlah lokasi untuk membuka kembali jalur air yang tersumbat.
Namun, langkah ini dinilai sebagai solusi jangka pendek yang belum menyentuh akar persoalan.
Evaluasi internal pemerintah daerah menyoroti perlunya penanganan jangka panjang yang lebih sistematis, mulai dari normalisasi sungai, rehabilitasi cekdam, hingga penataan ulang sistem drainase perkotaan.
Selain itu, pengawasan terhadap kawasan bantaran sungai dan peningkatan kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sampah menjadi bagian penting yang tidak terpisahkan.
Sejumlah warga berharap pemerintah tidak berhenti pada penanganan darurat.
Mereka menilai banjir yang berulang setiap musim hujan merupakan tanda bahwa persoalan tata kelola lingkungan di Lewoleba belum ditangani secara serius.
Tanpa perbaikan menyeluruh dari hulu hingga hilir, banjir serupa dikhawatirkan akan terus terjadi dengan dampak yang semakin besar.
Banjir kali ini menjadi peringatan keras bagi pemerintah daerah dan masyarakat bahwa persoalan lingkungan perkotaan membutuhkan penanganan lintas sektor dan berkelanjutan.
Di tengah ancaman cuaca ekstrem yang kian sering terjadi, pembenahan sistem drainase dan pengelolaan daerah aliran sungai bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak. (Prokompimkablembata)