Nagawutung, IndonesiaSurya.com – Keluarga besar SMA Negeri 1 Nagawutung menggelar Rapat Penilaian Akhir Semester Genap Tahun Pelajaran 2025/2026 yang dirangkaikan dengan acara temu pisah bersama dua guru hebat, Senin (15/6/2026), di Ruang Guru SMA Negeri 1 Nagawutung. Seluruh guru dan tenaga kependidikan hadir serta mengambil bagian dalam kegiatan yang berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan dan haru tersebut. Kegiatan dipandu oleh Petrus Peka Haru, S.Pd. selaku pewara.
Lebih dari sekadar agenda akademik, pertemuan ini menjadi ruang refleksi bersama bagi seluruh warga sekolah dalam meneguhkan kembali komitmen untuk menghadirkan layanan pendidikan yang berkualitas dan berpusat pada peserta didik. Di tengah berbagai dinamika dan tantangan dunia pendidikan yang terus berkembang, semangat kebersamaan dan kolaborasi menjadi kekuatan utama yang terus dirawat oleh keluarga besar SMAN 1 Nagawutung.
Dalam arahan pembukanya, Kepala SMA Negeri 1 Nagawutung, Patrisius Beyeng, S.Pd., menegaskan bahwa rapat penilaian bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan momentum penting untuk melakukan evaluasi bersama terhadap perkembangan peserta didik dari aspek pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Penilaian tidak hanya dipahami sebagai proses memberikan angka, melainkan sebagai upaya untuk melihat secara utuh pertumbuhan dan perkembangan peserta didik sebagai pribadi yang sedang dibentuk menjadi manusia yang cerdas, berkarakter, dan memiliki kecakapan hidup.
Menurutnya, rapat nilai memiliki sifat kolektif dan kolegial dengan semangat "omong sama-sama, putuskan sama-sama". Kebersamaan dan kolaborasi menjadi penekanan utama dalam pengambilan keputusan, dengan tetap berlandaskan Kurikulum Merdeka melalui pendekatan Pembelajaran Mendalam (PM) yang disinergikan dengan Kurikulum Satuan Pendidikan (KSP). Setiap keputusan diambil secara musyawarah mufakat dengan tetap memperhatikan ketuntasan belajar pada setiap mata pelajaran.
Semangat kolektif dan kolegial tersebut mencerminkan budaya kerja yang selama ini dibangun di SMAN 1 Nagawutung, yakni budaya saling mendengar, saling melengkapi, dan saling bertanggung jawab demi kepentingan terbaik bagi peserta didik. Dalam forum tersebut, setiap guru memiliki ruang yang sama untuk memberikan pandangan, masukan, maupun pertimbangan profesional, sehingga keputusan yang dihasilkan merupakan buah dari kebijaksanaan bersama, bukan keputusan individual.
Setelah rapat dibuka secara resmi, Ketua Panitia Penilaian Akhir Semester Genap, Donatus Dua Uak, S.Pd., menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan. Selanjutnya, para wali kelas X dan XI memaparkan hasil evaluasi serta perkembangan belajar peserta didik yang mendapat tanggapan dari guru mata pelajaran maupun guru Bimbingan dan Konseling. Diskusi yang berlangsung secara terbuka dan konstruktif menunjukkan adanya kepedulian bersama terhadap perkembangan setiap peserta didik, sekaligus menjadi sarana untuk menemukan solusi atas berbagai tantangan yang dihadapi selama proses pembelajaran berlangsung.
Rapat kemudian ditutup dengan penandatanganan berita acara sebagai bentuk pertanggungjawaban bersama. Penandatanganan tersebut bukan hanya menjadi formalitas administratif, melainkan simbol komitmen seluruh guru dan tenaga kependidikan dalam mengemban tugas pendidikan secara profesional, transparan, dan bertanggung jawab. Melalui semangat musyawarah dan gotong royong yang terus dipelihara, SMAN 1 Nagawutung semakin meneguhkan diri sebagai komunitas belajar yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter, penguatan nilai-nilai kemanusiaan, serta terwujudnya Profil Pelajar Pancasila yang berakar pada budaya lokal dan terbuka terhadap perkembangan zaman.
15 dan 21 Tahun Mengabdi, Ibu Ika dan Ibu Tin Tinggalkan Kenangan Indah di SMAN 1 Nagawutung
Usai rapat penilaian, suasana di Ruang Guru SMA Negeri 1 Nagawutung berubah menjadi lebih hangat dan penuh haru. Agenda yang semula bernuansa akademik berlanjut menjadi momentum perpisahan bersama dua sosok pendidik yang telah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan sekolah, yakni Ibu *Maria K.M.O.P. Dora, S.Pd* yang akan melanjutkan pengabdian di SMA Negeri 1 Titehena, Kabupaten Flores Timur, serta Ibu *Monika M.S. Tallu, S.Pd* yang mendapat tugas baru di SMA Negeri 1 Ile Ape, Kabupaten Lembata.
Perpisahan itu bukan sekadar perpindahan tempat tugas, melainkan juga penanda berakhirnya sebuah perjalanan panjang pengabdian yang telah diwarnai dengan ketulusan, dedikasi, serta kebersamaan yang terjalin selama bertahun-tahun. Selama kurang lebih 21 tahun, Ibu Tin telah menjadi bagian dari sejarah pertumbuhan dan perkembangan SMAN 1 Nagawutung, sementara Ibu Ika telah mengabdikan diri selama 15 tahun, mendampingi berbagai generasi peserta didik untuk bertumbuh dan meraih cita-cita mereka.
Dalam dunia pendidikan, jejak seorang guru tidak hanya tercatat dalam daftar hadir dan administrasi sekolah, tetapi hidup dalam ingatan para murid, dalam keberhasilan yang dicapai, dalam nilai-nilai yang diwariskan, serta dalam keteladanan yang terus dikenang oleh mereka yang pernah merasakan sentuhan pengabdiannya. Oleh karena itu, perpisahan ini bukanlah tentang kehilangan, melainkan tentang melanjutkan warisan kebaikan yang telah ditanamkan selama ini.
Mewakili guru dan tenaga kependidikan, Daniel Dengi, S.Pd., menyampaikan sambutan yang sarat makna. Dengan penuh ketulusan, ia mengungkapkan tiga hal penting kepada kedua rekan yang akan meninggalkan SMAN 1 Nagawutung, yakni ucapan terima kasih atas pengabdian yang telah diberikan, permohonan maaf atas segala kekurangan dalam kebersamaan selama ini, serta pesan dan harapan agar keduanya terus menjadi pendidik yang menginspirasi di tempat tugas yang baru.
Ungkapan tersebut seakan menjadi cerminan budaya kekeluargaan yang telah lama tumbuh di SMAN 1 Nagawutung. Di balik tugas dan tanggung jawab sebagai pendidik, seluruh warga sekolah telah dipersatukan oleh ikatan persaudaraan yang melampaui sekadar hubungan profesional. Mereka bertumbuh bersama, saling menguatkan, berbagi suka dan duka, serta berjalan bersama dalam satu tujuan mulia, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa.
Kepala Sekolah, Patrisius Beyeng, S.Pd., bersama Komite Sekolah turut menyampaikan penghargaan dan apresiasi yang tinggi atas dedikasi kedua guru tersebut. Pengabdian yang telah mereka berikan selama belasan bahkan puluhan tahun telah menjadi bagian penting dalam perjalanan dan kemajuan SMAN 1 Nagawutung. Kehadiran mereka telah ikut membentuk wajah sekolah serta menghadirkan semangat pelayanan yang tulus kepada peserta didik dan masyarakat.
Suasana haru semakin terasa ketika Ibu Ika, mewakili guru yang berpindah tugas, menyampaikan kata-kata perpisahan. Dengan suara yang bergetar dan mata yang berkaca-kaca, ia mengenang perjalanan panjangnya bersama keluarga besar SMAN 1 Nagawutung yang telah menjadi tempat bertumbuh, belajar, dan mengabdi selama kurang lebih 15 tahun. Sementara itu, Ibu Tin telah menorehkan pengabdian selama 21 tahun yang tentunya menyimpan begitu banyak cerita, perjuangan, dan kenangan yang tak mudah dilupakan.
"Ada banyak orang tua, kakak, dan adik yang senantiasa hadir untuk saya. Terima kasih atas segala kebaikan yang telah diberikan," ungkapnya penuh haru.
Ucapan sederhana itu menggambarkan bahwa sekolah ini telah menjadi rumah kedua bagi mereka. Di dalamnya tidak hanya terdapat rekan kerja, tetapi juga keluarga yang saling menerima, mendukung, dan menguatkan dalam perjalanan pengabdian.
Selain menyampaikan rasa terima kasih, Ibu Ika juga menyampaikan permohonan maaf atas segala kekhilafan, kekurangan, dan kesalahan yang mungkin terjadi selama menjalankan tugas dan membangun kebersamaan bersama seluruh warga sekolah. Sebab pada akhirnya, setiap perjumpaan yang indah selalu menyisakan kerendahan hati untuk saling memaafkan dan saling mendoakan.
Sebagai ungkapan kasih dan penghargaan, acara dilanjutkan dengan penyerahan cenderamata serta jabat tangan perpisahan. Tidak sedikit wajah yang tampak menahan haru. Senyum dan air mata berpadu menjadi bahasa yang paling jujur dalam mengungkapkan rasa kehilangan sekaligus kebahagiaan atas perjalanan baru yang akan ditempuh kedua guru tersebut.
Suasana kekeluargaan semakin terasa dalam makan bersama dan sesi foto bersama yang menjadi penutup rangkaian kegiatan. Kebersamaan yang sederhana itu menjadi pengingat bahwa hubungan antarmanusia yang dibangun dengan ketulusan akan selalu meninggalkan kenangan yang indah dan tak lekang oleh waktu.
Dalam doa syukur yang mengakhiri seluruh rangkaian acara, keluarga besar SMAN 1 Nagawutung menyerahkan perjalanan pengabdian Ibu Ika dan Ibu Tin ke dalam penyelenggaraan Tuhan. Dengan penuh iman dan harapan, mereka memohon agar kedua guru tersebut senantiasa dianugerahi kesehatan, sukacita, semangat, serta kebijaksanaan sehingga tetap menjadi pendidik yang membawa terang, menebarkan harapan, dan menjadi berkat bagi peserta didik di tempat tugas yang baru.
Rangkaian kegiatan ini sekali lagi menegaskan bahwa SMA Negeri 1 Nagawutung bukan sekadar tempat bekerja dan belajar. Lebih dari itu, sekolah ini adalah rumah bersama yang mempersatukan banyak pribadi dalam semangat persaudaraan, kolaborasi, dan pengabdian. Sebab sejatinya, seorang guru boleh berpindah tempat tugas, tetapi jejak kasih, keteladanan, dan pengabdian yang telah ditinggalkan akan tetap hidup dalam kenangan serta menjadi bagian dari sejarah yang terus dikenang oleh keluarga besar SMAN 1 Nagawutung. (Hans Koban-Humas SMANSA Naga)