LEWOLEBA,— Telkomsel menargetkan konektivitas internet di Kabupaten Lembata kembali normal pada 1 November 2026, setelah gangguan jaringan yang berlangsung hampir sebulan akibat putusnya kabel sistem komunikasi laut di perairan sekitar 15‑16 kilometer dari Pulau Adonara, Flores Timur.
Target pemulihan itu disampaikan Paskalis Leki, Manajer Infrastruktur Listrik Flores yang mewakili Telkomsel, dalam audiensi dengan Wakil Bupati Lembata H. Muhamad Nasir di Rumah Jabatan Wakil Bupati Lamahora, Lewoleba, Kamis (22‑10‑2026). Pertemuan itu juga dihadiri Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Lembata, Petrus Demon.
Paskalis menjelaskan, terputusnya kabel laut membuat jalur data utama Lembata ke luar pulau terhenti. Untuk mengurangi dampak, pihaknya telah mengaktifkan jalur cadangan berbasis radio. Namun kapasitas sistem tersebut masih terbatas dan belum bisa melayani seluruh kebutuhan masyarakat secara optimal.
“Dengan putusnya kabel laut ini, sistem komunikasi atau jaringan internet dari Pulau Lembata ke arah luar terputus. Kami sudah berupaya mengaktifkan sistem radio yang ada di Lembata, tetapi kapasitasnya terbatas sehingga belum bisa melayani seluruh jaringan secara penuh,” ujar Paskalis.
Ia melaporkan kapal khusus perbaikan kabel laut telah berangkat dari Kalimantan dan saat ini berada di perairan antara Jawa dan Bali, dengan perkiraan tiba di wilayah Lembata pada 25 Oktober 2026. Pekerjaan penyambungan ditargetkan selesai 31 Oktober, sehingga layanan dipulihkan secara penuh pada 1 November 2026, dengan catatan tergantung kondisi teknis di lapangan.
Gangguan yang berlangsung berminggu‑minggu telah menghambat aktivitas masyarakat, pelayanan kantor pemerintah, dunia usaha, dan warga yang bergantung pada internet untuk bekerja dan berkomunikasi.
Wakil Bupati H. Muhamad Nasir menilai gangguan ini masalah serius, mengingat Lembata adalah daerah kepulauan yang sangat bergantung pada koneksi digital. Ia menyayangkan bahwa hingga saat audiensi, pihak pemda belum menerima surat resmi penjelasan dari Telkomsel, sehingga informasi selama ini hanya diperoleh dari pemberitaan media.
“Dengan hilangnya sinyal dan terganggunya jaringan internet di Lembata, pelayanan pemerintahan maupun aktivitas konsumen sangat terdampak,” tegas Wabup Nasir.
Ia menambahkan insiden putus kabel laut ini terjadi di lokasi yang sama dengan kejadian tahun 2022, yang juga membutuhkan waktu pemulihan sekitar sebulan. Karena itu, pemerintah daerah meminta Telkomsel tidak hanya memperbaiki kabel yang rusak, tetapi juga menyusun sistem perlindungan dan jaringan cadangan yang lebih andal untuk mencegah gangguan berulang.
“Karena kejadian ini sudah berulang di lokasi yang sama, perlu ada kajian terhadap penggunaan teknologi dan sistem perlindungan jaringan yang lebih baik. Jangan sampai masyarakat kembali mengalami gangguan berkepanjangan ketika insiden serupa terjadi,” ujar Nasir.
Menanggapi hal itu, Paskalis menyatakan pihaknya telah merencanakan peningkatan kapasitas sistem radio sebagai jalur pengganti, namun belum menyampaikan jadwal rinci dan besaran peningkatan tersebut. Terkait kemungkinan kompensasi bagi pelanggan yang terdampak, ia menjelaskan hal itu menjadi kebijakan pusat Telkom Group. Di akhir pernyataannya, ia menyampaikan permohonan maaf atas gangguan yang terjadi.
Pemerintah Kabupaten Lembata kini menunggu realisasi target perbaikan yang disampaikan, serta berharap adanya komunikasi yang lebih terbuka dan penguatan sistem cadangan agar gangguan serupa tidak melumpuhkan konektivitas daerah lagi. (Prokompimkablembata)