Artificial intelegensi atau kecerdasan buatan bagi mahasiswa bukan merupakan suatu hal baru dan membingungkan.
Praktino (2017) menyatakan AI sebagai asisten manusia yang bergerak layaknya robot dalam bentuk virtual di sistem komputer.
Menurut Bedy dan Iwan(2021) AI Adalah teknologi yang memungkinkan mesin mensimulasikan perilaku manusia. Russell dan Norvig (2010) mengklasifikasikan AI ke dalam beberapa kategori yang menggambarkan cakupan dan fungsi AI.
Secara umum, AI adalah bidang ilmu yang mencakup pemrograman komputer, ilmu data, dan pemodelan perilaku cerdas agar mesin dapat belajar, menemukan pola, dan membuat Keputusan layaknya manusia.
Apakah AI dapat menunjang kualitas Pendidikan ?
AI memberikan banyak sekali manfaat yang sangat membantu mahasiswa untuk memperoleh materi dan memahaminya. Di zaman yang serba canggih juga instant ini, AI menjadi pilihan empuk mahasiswa belajar dimanapun dan kapanpun.
Pemanfaatan AI dalam Pendidikan membuat Pelajaran lebih interaktif, adaptif, dan inklusif. Ia hadir dengan asisten virtual yang dengan cepat memberikan respon dan umpan balik. AI memungkinkan pembelajaran terjadi secara adaptif, tergantung kebutuhan dan akses yang digunakan, juga dapat menjangkau semua elemen mahasiswa.
AI sangat membantu dalam dunia Pendidikan, tapi karena kemudahan yang disajikan oleh AI, secara tidak langsung menumbuhkan sikap malas belajar dan mematikan akal pikir. AI ‘dinobatkan’ sebagai satu-satunya jawaban dari semua pertanyaan yang diberikan dalam tugas. Tugas orangtua dan pendidik sangat dibutuhkan untuk membatasi intensitas AI bagi belajar Mahasiswa.
Mahasiswa juga harus mempunyai kesadaran tentang AI sebagai penunjang belajar bukan sebagai satu satunya jalan mendapatkan jawaban.
Intensitas AI dalam dunia Pendidikan
AI harus punya batasan intervensi kedalam dunia pendidikan. Porsinya wajib diatur agar tidak membuat mahasiswa menjadi malas dan bermental enak. Mahasiswa sendiri juga harus punya kesadaran sendiri. Sistem ini secara tidak langsung ingin membunuh akal dan nalar berpikir manusia. Kebaikan dan keburukan itu selalu berjalan beriringan. Jadi dengan kemudahan yang ditawarkan oleh AI datang juga rasa malas yang datang.
Menjadi tugas pendidik dan orangtua untuk menjaga dan memastikan AI tidak menguasai anak. Perlu tindakan tegas agar mahasiswa paham bahwa mereka tidak sedang baik-baik saja. Penggunaan AI yang bijak sebagai alat bantu bukan jadi satu-satunya tempat memperoleh jawaban. Harus ada keseimbangan agar tidak melemahkan kemandirian belajar dan membunuh daya kritis mahasiswa.