Ungkap Realita Sosial

Logo Banggainesia
Local Edition | | Todays News


Krisis Iklim dan Ancaman Kesehatan Nyata Akibat Fluktuasi Cuaca Ekstrem di Kota Kupang

Penulis ; Niakodel Damasejahti Jahapay Nim 43123050 Mahasiswa ilmu komunikasi UNWIRA Kupang

Indonesiasurya
Kamis, 11 Desember 2025 | 23:24:00 WIB
Ilustrasi

Sebagai mahasiswa rantau yang telah tinggal di Kupang selama dua tahun, saya dulu terpesona oleh pesona tropisnya. Namun, kota ini kini menghadapi cuaca yang tak menentu pagi hujan deras, siang panas terik, sore kembali hujan lebat. Ketidakpastian ini bukan sekadar gangguan; ia telah bertransformasi menjadi ancaman serius bagi kesehatan mahasiswa dan seluruh warga Kupang.

Ingat pengalaman saya suatu hari: hujan pagi membuat jalan licin, sehingga saya terlambat ke kampus. Saat tiba, matahari membara, menyebabkan dehidrasi dan sakit kepala hebat. Sore hari, hujan kembali turun. Pulang basah kuyup, saya akhirnya memicu Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) dan batuk berkepanjangan selama seminggu. Ini bukan kisah unik; teman-teman saya sering jatuh sakit dan demam akibat genangan air mendadak, yang secara cepat menjadi sarang nyamuk penyebab Demam Berdarah Dengue (DBD).

Fluktuasi cuaca ekstrem ini secara langsung meningkatkan risiko penyakit. Panas ekstrem memicu sengatan panas (heatstroke), terutama pada lansia atau pekerja luar ruangan seperti tukang ojek. Sementara itu, curah hujan tinggi menciptakan banjir kecil dan genangan air, tempat berkembang biak nyamuk Aedes aegypti dan kuman penyebab penyakit air seperti diare, tipes, dan leptospirosis. Ini memaksa sistem imun warga bekerja terlalu keras, menjebak mereka dalam siklus sakit yang berulang.

Krisis ini bukan asumsi belaka, melainkan fakta yang didukung data. Dinas Kesehatan Kota Kupang melaporkan lonjakan kasus DBD sebesar 66% tahun ini dibandingkan tahun sebelumnya. Di saat yang sama, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat frekuensi hujan ekstrem di Nusa Tenggara Timur (NTT) meningkat 39% dalam dekade terakhir. Ini membuktikan bahwa perubahan pola curah hujan yang tidak menentu adalah pemicu utama krisis kesehatan yang kita hadapi. 

Ini semua adalah dampak perubahan iklim global, yang diperparah oleh deforestasi lokal dan sistem tata ruang kota yang rentan. Di lokasi vital seperti kawasan Universitas Katolik Widya Mandira Kupang dan Jln  lanudal, genangan air sering terjadi setelah hujan deras, mengindikasikan masalah drainase yang serius dan meningkatkan risiko DBD serta leptospirosis.

Kita dapat dan harus mengatasi ancaman ini melalui mitigasi terpadu. Pemerintah Kota Kupang harus memimpin dengan implementasi sistem peringatan dini cuaca yang akurat, perbaikan sanitasi, optimalisasi drainase, dan program reboisasi di daerah aliran sungai. Di sisi lain, masyarakat wajib adaptif dan proaktif, mulai dari menjaga hidrasi dan memperkuat imunitas, hingga rutin bergotong royong membersihkan saluran air dan mencegah genangan, misalnya melalui program 3M Plus.

Dengan kolaborasi yang solid antara kebijakan pemerintah dan tindakan adaptif masyarakat, kita tidak hanya akan mengurangi dampak kesehatan, tetapi juga membangun Kota Kupang yang lebih tangguh dan berketahanan iklim. Mari kita mulai aksi kesadaran ini dari kampus karena masa depan kesehatan dan ketahanan kota kita sangat tergantung pada tindakan tegas hari ini.


Bagikan

KOMENTAR (0)

Alamat Email anda tidak akan ditampilkan. Wajib diisi untuk kolom *

Berita Foto

Berita Terkini

Desa Roho Ditetapkan Sebagai Tuan Rumah Perayaan Peringatan Hardiknas Tingkat Kabupaten Lembata

Lomba ini sebagai ajang minat dan bakat, juga sebagai kesempatan kepada para siswa menunjukan kemampuan yang mereka mili

| Minggu, 19 April 2026
Warga Lamaau Kesulitan Air Bersih, Pemda Lembata dan PT Cendana Indopearls Distribusi 15.000 Liter Air

Penyaluran dilakukan bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lembata sebagai bagian dari upaya tanggap darura

| Sabtu, 18 April 2026
Dalam Diam Fraksi Partai Golkar Bantu Fasilitasi Perbaikan Dermaga Waijarang Lembata

Perbaikan dermaga di Lembata akan kami mulai bulan Mei, saat ini pada tahap perencanaan dan pengadaan,” ujar Mekeng m

| Sabtu, 18 April 2026
Solusi Pasar Jagung, Pemda Beli Jagung Tongkol, Harga Dijamin, Pembayaran Tunai

Kebijakan ini memberi kelonggaran bagi petani yang selama ini kesulitan memenuhi standar kadar air rendah akibat keterba

| Sabtu, 18 April 2026
Aksi KMI Jilid I di KPK, Tuduh Kadinkes Madina Jadi “Penagih Uang Keamanan”

Dugaan kuat bahwa saudara Kepala Dinas Kesehatan Mandailing Natal menjadi king maker sekaligus penagih berkedok uang kea

| Sabtu, 18 April 2026
Siapa Pelaku Pemotongan Rompong Nelayan Desa Balauring Lembata?

Meski ada kasak kusuk di tengah masyarakat, namun, belum ada cukup bukti tentang siapa dalang dibalik perbuatan tidak be

| Jumat, 17 April 2026
Indeks Berita
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2026 Indonesia Surya
Allright Reserved
CONTACT US Lembata
Lembata, Nusa Tenggara Timur
Telp: +6281334640390
INDONESIA SURYA
Viewers Now: 4