Ungkap Realita Sosial

Logo Banggainesia
Local Edition | | Todays News


Bupati Lembata Hadiri Rakor: ​Belanja Pegawai NTT Capai 54 Persen, ASN Tak Boleh Dirumahkan Tapi Anggaran Menipis

PMK Nomor 24 Tahun 2024, mulai tahun anggaran 2028, pemerintah pusat berwenang melakukan penundaan hingga pemotongan Dana Bagi Hasil (DBH) dan Dana Alokasi Umum (DAU) bagi daerah yang membandel.

Indonesiasurya
Kamis, 02 April 2026 | 10:19:56 WIB
Foto

KUPANG – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) bersama pemerintah pusat dan seluruh kepala daerah se-NTT termasuk Bupati Lembata menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) krusial terkait implementasi Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (HKPD). 

Rapat yang berlangsung di Aula Fernandez, Kantor Gubernur NTT, Selasa malam, 31 Maret 2026 ini membedah tantangan berat daerah dalam menekan angka belanja pegawai.

​Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, yang memimpin rapat didampingi Wakil Gubernur Johni Asadoma, mengungkapkan fakta murni di lapangan, rata-rata belanja pegawai di seluruh kabupaten/kota di NTT masih jauh melampaui ambang batas nasional. 

Berdasarkan data APBD Tahun Anggaran 2026, persentase belanja pegawai di NTT mencapai 54,30 persen, sementara regulasi UU HKPD mematok batas maksimal hanya 30 persen.

​"Kita harus mencari solusi bersama. Ini bukan saatnya mengeluh, tetapi saatnya bekerja menemukan jalan keluar terbaik," ujar Melki Laka Lena di hadapan perwakilan kementerian dan kepala daerah. 

Ia menegaskan prioritas utamanya adalah menjaga nasib para aparatur. "Harapan kita bersama, tidak ada satu pun pegawai, dengan status apa pun, yang harus dirumahkan."

Ketentuan Pasal 146 UU Nomor 1 Tahun 2022 mewajibkan daerah mengalokasikan belanja pegawai di luar tunjangan guru maksimal 30 persen. 

Direktur Jenderal Bina Keuangan Daerah Kemendagri, Agus Fatoni, yang hadir memimpin delegasi pusat, mengingatkan adanya konsekuensi fiskal jika target ini meleset.

Sesuai PMK Nomor 24 Tahun 2024, mulai tahun anggaran 2028, pemerintah pusat berwenang melakukan penundaan hingga pemotongan Dana Bagi Hasil (DBH) dan Dana Alokasi Umum (DAU) bagi daerah yang membandel. 

Tantangan kian pelik karena daerah juga diwajibkan mengalokasikan 40 persen belanja untuk infrastruktur pelayanan publik.

​"Namun, undang-undang memberikan ruang. Jika melampaui batas, ada mekanisme penyesuaian melalui keputusan Menteri Dalam Negeri setelah berkoordinasi dengan Menteri Keuangan dan Menteri PAN-RB," jelas Agus Fatoni.

​Menanggapi kondisi fiskal yang terhimpit, pemerintah pusat mendorong pemerintah daerah di NTT melakukan efisiensi radikal. 

Daerah diminta memangkas anggaran non-prioritas seperti kegiatan seremonial, studi banding, seminar, hingga perjalanan dinas yang tidak terukur output-nya.

​Di sisi lain, Direktur Pembiayaan dan Perekonomian Daerah Kemenkeu, Adriyanto, menekankan pentingnya intensifikasi Pendapatan Asli Daerah (PAD). 

Pusat menawarkan solusi berupa digitalisasi sistem pendapatan dan pemanfaatan skema pembiayaan alternatif seperti obligasi daerah hingga Kerja Sama Pemerintah Daerah dengan Badan Usaha (KPDBU).

​Para kepala daerah di NTT termasuk Bupati Lembata P. Kanisius Tuaq mengusulkan adanya relaksasi kebijakan mengingat karakteristik NTT sebagai wilayah kepulauan dan kategori 3T (tertinggal, terdepan, terluar) yang memiliki ketergantungan tinggi pada dana transfer pusat.

​Gubernur Melki Laka Lena optimistis jalan keluar dapat dicapai tanpa harus merombak regulasi di level parlemen.

"Tidak perlu perubahan undang-undang. Cukup dengan pertemuan tiga menteri untuk mengambil kebijakan diskresi khusus agar implementasi undang-undang disesuaikan dengan kondisi riil daerah," tegasnya.

​Sebagai langkah konkret, Gubernur dijadwalkan akan membawa para kepala daerah ke Jakarta setelah perayaan Paskah untuk berkonsultasi langsung dengan lintas kementerian.

Sementara itu, Menteri Dalam Negeri dijadwalkan melakukan kunjungan kerja ke Kupang pada 2 April 2026 mendatang untuk mengawal langsung draf solusi bagi stabilitas keuangan di Bumi Flobamora. (Prokompimkablembata/BiroAdmPimpSetdaProvNTT)


Bagikan

KOMENTAR (0)

Alamat Email anda tidak akan ditampilkan. Wajib diisi untuk kolom *

Berita Terkini

HUT ke-27 Lembata, Bupati Kanis Tegaskan Pembangunan Harus Berdampak Nyata

Peringatan tahun ini mengusung tema 'Dengan Semangat Taan Tou, Melangkah Bersama Mewujudkan Pemerintahan yang Efektif, S

| Selasa, 13 Oktober 2026
Bupati Kanis Tinjau Laboratorium Kesehatan Hewan Lembata, Pastikan Siap Beroperasi

"Laboratorium ini sangat penting untuk memantau kesehatan ternak, memastikan keamanan daging yang beredar, serta mengawa

| Rabu, 14 Oktober 2026
Dari Laporan Masyarakat hingga Penindakan, Satresmob Bareskrim Ungkap Kasus Curanmor

Tim Satresmob Bareskrim Polri yang dipimpin oleh Kanit 1 Satresmob Bareskrim Polri, Kombes Pol Harry Azhar, S.H., S.I.K.

| Selasa, 13 Oktober 2026
PT. Annisa Ahmada Buka Suara! Bantah Telantarkan Jemaah Umroh, Ungkap Masalah Vendor Tiket

Dalam surat klarifikasi bernomor 042/AAT/EXT/X/2026, PT Annisa Ahmada Travelindo menjelaskan kronologi permasalahan yang

| Selasa, 13 Oktober 2026
"Otonomi Harus Dirasakan Sampai ke Desa" — Lukman Laba Soroti Perayaan yang Terasa Jauh dari Masyarakat

Lukman menutup dengan harapan agar otonomi benar-benar hidup di hati setiap masyarakat, dari kota hingga ke desa-desa pa

| Senin, 12 Oktober 2026
HUT ke-27 Otonomi Lembata: Ketua DPRD Syafrudin Sira ; "Otonomi hanya judul namun, isinya nyaris tak ada"

Kita belum menjiwai secara penuh otonomi ini. Semangat Taan Tou — satu rasa — belum kita lakukan secara maksimal." U

| Senin, 12 Oktober 2026
Fransiskus Gewura akui, 27 Tahun Otonomi Lembata ada Kemajuan, tinggal Fokus ke Ekonomi Masyarakat

Poin tak kalah penting yang disampaikan Frans Gewura adalah menjaga keamanan dan ketertiban agar Lembata menjadi daerah

| Senin, 12 Oktober 2026
Indeks Berita
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2026 Indonesia Surya
Allright Reserved
CONTACT US Lembata
Lembata, Nusa Tenggara Timur
Telp: +6281334640390
INDONESIA SURYA
Viewers Now: 8