Lembata, 30 Maret 2026 – Bupati Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), Petrus Kanisius Tuaq, menilai pengembangan geothermal di Atadei selaras dengan visi hilirisasi sektoral yang tengah didorong pemerintah daerah.
Menurut Petrus, kehadiran energi panas bumi tidak hanya mendukung kebutuhan dasar masyarakat, tetapi juga menjadi fondasi bagi pertumbuhan ekonomi daerah.
“Ini sebenarnya sangat mendukung visi dan misi kami. Selain menerangi kebutuhan masyarakat dan aktivitas ekonomi, hilirisasi sektoral menjadi fokus utama yang sangat membutuhkan dukungan energi,” ujarnya, seperti dikutip dalam film dokumenter “Matahari dalam Tanah” hasil kolaborasi PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara (UIP Nusra) bersama Harian Pos Kupang dan Tribun EO.
Ia menjelaskan, hilirisasi sektoral yang dicanangkan pemerintah daerah menuntut ketersediaan listrik yang andal guna mendorong berkembangnya sektor-sektor potensial di Lembata.
“Hilirisasi sektoral dalam visi misi kami mencakup pembangunan pabrik, pakan ternak, industri es, hingga pengolahan pangan lokal.
Semua itu membutuhkan listrik. Jika ini berjalan, saya yakin investor akan semakin tertarik hadir di Lembata,” jelasnya.
Lebih lanjut, Petrus menegaskan bahwa pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Atadei 10 MW juga sejalan dengan komitmen global dalam menekan emisi karbon.
Kehadiran PLTP Atadei 10 MW dinilai mampu memperkuat kemandirian energi bersih sekaligus berkontribusi terhadap target Net Zero Emission (NZE) 2060.
“Karena itu, kami terus mendorong dan mendukung pengembangan ini. Saya juga mengajak masyarakat untuk melihat secara jernih nilai positif geothermal bagi masa depan Lembata,” tuturnya.
Sementara itu, General Manager PT PLN (Persero) UIP Nusra, Rizki Aftarianto, menyampaikan bahwa optimalisasi potensi panas bumi di NTT berpeluang signifikan dalam menekan emisi karbon.
Ia menyebutkan, pemanfaatan energi panas bumi secara maksimal dapat mengurangi lebih dari 2,4 juta ton emisi karbon yang berpotensi dilepaskan ke atmosfer.
“Pengembangan panas bumi memungkinkan kita menggantikan pembangkit berbasis fosil dengan energi yang lebih bersih. Satu unit pembangkit panas bumi saja dapat menekan hingga 6.000 ton emisi CO2. Ini menjadi langkah strategis dalam mendukung pencapaian NZE 2060,” tegas Rizki.[]