Lewoleba - Rumah Sakit Bukit salah satu tempat pelayan kesehatan Milik swasta di kota Lewoleba kecamatan Nubatukan kabupaten Lembata provinsi NTT menempatkan politisi sebagai wakil direktur, mirisnya setelah itu ada temuan kurang lebih 800an juta menguap dari bagian farmasi.
Hal ini kemudian menjadi perhatian publik karena setelah dugaan adanya kebocoran anggaran dilaporkan ke direktur, sang penemu malah di bebas tugaskan tanpa alasan dan lebih terkesan mengada-ada.
Rumah sakit milik keuskupan larantuka dan dikelola yayasan papa miskin merupakan rumah sakit tua yang sejak lama menjadi kebanggan masyarakat Lembata namun, anehnya pihak keuskupan mempekerjakan politisi dalam struktur kepengurusan.
Mikael Honi Kolin mantan anggota DPRD kabupaten Flores Timur diangkat menjadi wakil direktur rumah sakit bukit, anehnya setelah mempekerjakan politisi ini, ada temuan 800an juta dari bagian Farmasi.
Agustina Sabu Beda, A.Md.Keb kepala bagian penunjang medik, diskors tanpa ada alasan jelas padahal ia yang menemukan ada dugaan kebocoran anggaran di farmasi.
"Saya melaporkan ada dugaan kebocoran kepada direktur dokter Lusia agar ditindaklanjuti berupa audit" ujar Aty
Lanjutnya setelah menyampaikan ke direktur, tiba-tiba dirinya dipanggil oleh wakil direktur Mikael Honi Kolin dan dia menyampaikan bahwa, saya harus diskors sebelum farmasi diaudit.
Lalu berselang beberapa waktu saya sempat dipanggil Plt ketua yayasan menanyakan beberapa hal dan sudah saya jelaskan. Anehnya malah surat skorsing tanpa gaji terhitung 1 Januari 2026 hingga Maret 2026 yang saya terima. Saya heran ada apa? Tanya Agustina Sabu.
Informasi dihimpun media ini, sejak tahun 2022, mikel honi kolin diminta Romo Yohanes Angka ketua yayasan untuk melakukan audit keuangan di RS bukit. Ketika itu bendahara sr godeliva prr dan informasi menyebutkan ada temuan, sehingga suster dicopot dan diganti ibu Is Namang seorang awam.
Mikel Honi Kolin politisi yang tak puas hanya menjabat konsultan keuangan diduga melakukan sejumlah langka agar jabatannya bisa naik dan menjadi konsultan rumah sakit. Sejak 2023, sang politisi pun diangkat menjadi wakil direktur rumah sakit bukit, rumah sakit yang melegenda.
Jadi pada tahun 2023 itu Agustina Sabu Beda, A.Md.Keb yang juga telah diangkat menjadi kepala penunjang medik menemukan adanya kejanggalan di farmasi
Aty kepada media ini menjelaskan, setelah menemukan ada kejanggalan, ia melaporkan kepada direktur yangbkala itu dijabat dokter Lusia (Oktober 2024 sampe Oktober 2025) dan kepala bidang yang lain.
Atas laporan Saya itu kemudian, pihak yayasan dan RS bukit meminta seorang pater dari larantuka untuk melakukan audit di bagian Farmasi (september-oktober 2025) Pada Bulan Oktober kami kepala bidang disampaikan mengenai hasil audit dan ada temuan yang sempat tercatat oleh saya hingga ratusan juta yakni kurang lebih 800an juta.
"Mereka sampaikan Ke kami karena ini temuan internal jadi jangan disebarkan keluar" ujar Agustina
Setelah itu saya dipanggil wakil direktur Mikel Horo Kolin bahwa sebelum orang farmasi ditindak syaa di skors lebih dahulu. Dengan alasan saya memiliki kedekatan dengan suami orang. Ini aneh tapi itu yang disampaikan ke saya kala itu.
Sekedar untuk diketahui Ada lima bidang di RS bukit yakni, bidang medik dan pelayan keperawatan yang membawahi, ugd, rawat inap, rawat jalan, kebidanan dan kamar operasi.
Bidang kedua adalah, penunjang medik yang membawahi rekam medik, Labor, radiologi, farmasi dan gizi. Ketiga bidang keuangan (kasir), keempat bidang SDM (personalia), dan bidang penunjang umum (kesling,RT sana prasaran).
Laporan Hasil Audit Farmasi oleh Auditor
Hari/Tgl : Jumat, 28 NOV 2025
Tempat : Aula Dekenat
Berikut Temuan Audit terhadap data Tahun 2023 sampai Juni 2025 yang dihimpun media ini :
1. Kehilangan Obat sejumlah : Rp. 419.874.826
2. Obat Expire Date :
=> 2023 : Rp. 59.958.620
=> 2024 : Rp. 76.630.300
=> 2025 : Rp. 88.184.377
3. Jumlah obat yg tidak dilaporkan :
=> Rp. 22.020.679
=> Rp. 46.257.273
4. Laporan Harta Fiktif : Rp. 67.250.038
5. Bonus dari Pedagang Besar Farmasi (PBF) untuk RS Bukit tapi digelapkan oleh Apoteker berjumlah sekitar 62 jutaan