Olahraga - "Mengapa ayahnya memikirkan saya? Padahal ada Maradona di sana!" Jorge Valdano tertawa kecil saat pertama kali mendengar kisah itu.
Wajar Sebab pada Piala Dunia 1986, hampir seluruh dunia berbicara Diego Maradona. Namun, empat puluh tahun lalu, seorang pria dari Tanjung Verde justru terpikat pada pemain Argentina yang lain.
Namanya Jose Pedro Dias, la jatuh hati pada permainan bernama Valdano. Begitu terkesan, ia sampai berjanji : jika suatu hari punya anak laki-laki, ia ingin menamainya Valdano.
Namun ketika anak itu lahir, negara menolak. Petugas catatan sipil Tanjung Verde tak mengizinkan penggunaan nama asing.
Dan sejak saat itu nama beraroma Argentina ditolak masuk ke namanya. Tapi tidak ke takdirnya.
Sebagai gantinya, sang ayah memilih nama lain: Josimar José Évora Dias. Diambil dari Josimar, bek Brasil yang juga bersinar di Piala Dunia 1986.
Tak ada yang menyangka, bocah yang gagal diberi nama Valdano itu kelak menulis takdirnya sendiri.
Dunia kini mengenalnya sebagai Vozinha. Bukan wonderkid, bintang akademi elite, atau pemain klub besar Eropa. la bahkan baru menjadi pesepak bola profesional di usia 25 tahun. Terlambat, menurut standar sepak bola modern bahkan Ia nyaris menyerah dan pensiun namun, mimpi menahannya. Lalu datang 2026 FIFA World Cup.
Di usia 40 tahun, Vozinha membuat dunia menoleh. la menjadi tembok bagi Tanjung Verde. Membantu negaranya melakoni debut perdana dan sekaligus negara terkecil yang pernah lolos ke fase gugur.
Piala Dunia menulis sejarah.
Air mata pecah di tribun dan di lapangan ketika mereka dipastikan lolos ke babak 32 besar Piala Dunia. Dan untuk pertama kalinya, seluruh keluarganya ada di sana. Ayahnya hadir. Ibunya, yang sebelumnya gagal datang karena masalah visa, akhirnya tiba di Amerika Serikat.
"Jantung saya serasa copot... tapi hari ini keberuntungan berpihak
pada kami," ucap Ana.
"Dia telah melalui begitu banyak hal," tambahnya. Sementara sang ayah menatap putranya dengan mata berbinar.
'Sebagai seorang ayah, saya merasa sangat bangga, ini adalah sesuatu yang tidak pernah kami bayangkan.'
Kini tantangan berikutnya menunggu. Lawan Tanjung Verde di babak 32 besar adalah Timnas Argentina. Negara yang
dulu ingin dibawa ayahnya masuk ke dalam nama putranya. Ironisnya, Vozinha tak pernah melupakan kisah itu.
"Di dunia sepak bola, saya dikenal sebagai Vozinha. Tapi saya ingin menyampaikan penghargaan kepada Jorge Valdano dan Josimar, inspirasi di balik nama saya."
Kisah itu bahkan sampai ke telinga Valdano Dan reaksinya sungguh tak terduga.
"Empat puluh tahun setelah Piala Dunia 1986, saya merasa ikut bermain secara tidak langsung di Piala Dunia 2026 melalui Vozinha."
Lalu legenda Argentina itu tersenyum.
"Mengapa ayahnya memikirkan saya? Padahal ada Maradona di sana!"
Empat puluh tahun lalu, ayah Vozinha bermimpi tentang Argentina lewat layar televisi.
Kini... ia duduk langsung di tribun Piala Dunia, menyaksikan putranya berdiri menghadapi Argentina yang sesungguhnya.
Di seberang nanti ada Lionel Messi, sang juara dunia, juga legenda. Dan Vozinha tak menutupi antusiasmenya.
"Saya akan sangat senang bermain melawan Lionel Messi... dan siapa tahu, mungkin saya akan mendapatkan bajunya juga."
Namun antusiasme itu tak mengurangi keberaniannya. Saat ditanya bagaimana jika ia menghadapi penalti Messi di menit akhir dan berhasil menggagalkannya?
"Itu akan menjadi hal yang menakjubkan. Itu akan menjadi mimpi nyata," jawab Vozinha
tersenyum.
"Kami di sini untuk bersaing dan membuat hidup sulit bagi lawan kami,"Vozinha
Lanjutnya, Nama Valdano memang
tak pernah tertulis di akta kelahirannya Tapi rupanya, Argentina... sudah lama tertulis dalam takdirnya. (*)