Ungkap Realita Sosial

Logo Banggainesia
Local Edition | | Todays News


Didukung IDEP, Barakat Gelar Workshop "Muro Moel Wutun" Libatkan Pemangku Adat Belen Raya Lewuhala.

Workshop ini menjadi ruang kolaborasi antara pengetahuan lokal dan kajian ilmiah terkait praktik Muro sebagai kearifan lokal dalam menjaga ekosistem laut.

Indonesiasurya
Jumat, 17 April 2026 | 08:13:19 WIB
Foto

LEMBATA – Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Barakat menggelar workshop bertajuk Muro Moel Wutun dengan melibatkan pemangku adat Belen Raya Lewuhala serta dukungan dari IDEP Selaras Alam dan Adventures Before Dementia dari Italia.

Workshop ini berlangsung di Moting Ema Maria, Sekretariat Barakat Lamahora, Lewoleba Timur, Kecamatan Nubatukan, Nusa Tenggara Timur, pada Rabu, 15 April 2026.

Kegiatan ini menghadirkan dua peneliti asal Italia, Andreas dan Fransiska, serta tim dari Yayasan IDEP Selaras Alam, dan Belen Raya, yakni Stefanus Lodan Halimaking, Elias Keluli Soromaking, dan Bernadus Butu Dulimaking. Sementara itu, dari LSM Barakat hadir Ketua Benediktus Bedil Pureklolon bersama sejumlah stafnya.

Workshop ini menjadi ruang kolaborasi antara pengetahuan lokal dan kajian ilmiah terkait praktik Muro sebagai kearifan lokal dalam menjaga ekosistem laut.

Ketua LSM Barakat, Benediktus Bedil Pureklolon, menyampaikan apresiasi atas kehadiran seluruh pihak dalam kegiatan tersebut.

“Terima kasih atas kehadiran semua pihak. Hari ini kita memiliki tiga agenda utama, yakni pemaparan hasil koordinasi dengan KKP terkait sekolah lapang, presentasi hasil monitoring ekosistem laut oleh peneliti Italia di Moel Wutun, serta diskusi kelompok terarah (FGD) bersama IDEP terkait praktik kearifan lokal Muro,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa workshop ini menjadi langkah penting untuk memperkuat sinergi antara masyarakat adat, lembaga pendamping, dan peneliti dalam menjaga keberlanjutan sumber daya laut.

Dalam sesi presentasi, Andrea dan Fransisca sebagai peneliti dari Italia, memaparkan hasil pemantauan kondisi ekosistem bawah laut di wilayah Moel menggunakan metode dokumentasi visual melalui foto dan video bawah laut untuk mengidentifikasi kondisi terumbu karang dan biota laut.

Sementara itu, perwakilan Belen Raya Lewohala, Stefanus Lodan Halimaking, menegaskan bahwa masyarakat adat telah lama menjaga kawasan tersebut melalui praktik Muru.

“Sejak dahulu kami tidak merusak. Ada wilayah tertentu yang kami lindungi bahkan hingga puluhan tahun. Apa yang terlihat hari ini adalah hasil dari penjagaan itu,” ungkapnya.

Ia juga mengakui adanya perubahan kecil di beberapa titik, namun menegaskan bahwa faktor alam turut memengaruhi kondisi tersebut.

Dalam diskusi bersama, mengemuka pula gagasan penguatan praktik Muru Moel melalui dua skenario pengelolaan kawasan, yakni Zona Inti dan Zona Pemanfaatan Terbatas. Zona Inti dirancang sebagai wilayah yang sepenuhnya dilindungi, tanpa aktivitas pengambilan hasil laut dalam jangka waktu tertentu guna memulihkan ekosistem.

Sementara itu, Zona Pemanfaatan Terbatas memungkinkan masyarakat tetap beraktivitas secara terbatas dan terkontrol berdasarkan kesepakatan adat, seperti pengambilan atau penangkapan ikan.

Dalam konteks ini juga dijelaskan keterkaitannya dengan pesta adat di Lewohala. Misalnya, jika pesta Kacang berlangsung pada minggu kedua atau ketiga Oktober, maka Muru dengan Zona Pemanfaatan Khusus dapat dibuka pada bulan September.

Konsep dua zona ini dinilai sejalan dengan praktik Muru yang selama ini dijalankan masyarakat, yakni menutup dan membuka wilayah laut secara berkala sebagai bentuk kearifan lokal dalam menjaga keseimbangan alam dan keberlanjutan sumber daya.

Workshop ini juga menjadi bagian dari program dokumentasi yang digagas IDEP dan Barakat, yang akan menghasilkan film dokumenter serta modul edukasi tentang praktik Muru. Dokumentasi ini diharapkan dapat menghidupkan kembali pengetahuan lokal sekaligus menjadi media pembelajaran bagi generasi muda.

Dalam diskusi, peserta juga menggali lebih dalam tentang struktur adat, termasuk peran Belen Raya sebagai pengambil keputusan dalam praktik Muru. Dijelaskan bahwa pemilihan Belen Raya dilakukan melalui proses ritual adat yang sarat makna dan melibatkan beberapa suku.

Kegiatan ini diharapkan menjadi pijakan awal dalam merumuskan langkah strategis berbasis riset dan kearifan lokal untuk menjaga keberlanjutan ekosistem laut di Lembata.***


Bagikan

KOMENTAR (0)

Alamat Email anda tidak akan ditampilkan. Wajib diisi untuk kolom *

Berita Foto

Berita Terkini

Pemda Lembata Serahkan Bantuan Kepada Korban Gempa Desa Babokerig Nagawutung

pentingnya penguatan mitigasi, terutama dengan adanya indikasi sesar aktif baru yang berpotensi menimbulkan risiko lanju

| Jumat, 17 April 2026
Kembangkan Program Jambu Mete, Pemda Lembata Bangun Sektor Perkebunan

Kegiatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas tanaman jambu mente sekaligus menyediakan sumb

| Jumat, 17 April 2026
ISU PENYALAHGUNAAN DANA BOS SMKN 2 GOWA MENGEMUKA,KEPSEK ALIM BAHARI BERI TANGGAPAN

Kami ingin memastikan kepada masyarakat bahwa penggunaan dana BOS di SMKN 2 Gowa selalu sesuai dengan aturan yang diteta

| Jumat, 17 April 2026
ISU PENYALAHGUNAAN DANA BOS SMKN 2 GOWA MENGEMUKA,

Kami ingin memastikan kepada masyarakat bahwa penggunaan dana BOS di SMKN 2 Gowa selalu sesuai dengan aturan yang diteta

| Jumat, 17 April 2026
BSKDN Validasi dan Verifikasi Kinerja Pemda Lembata Dalam Upaya, Turunkan Angka Pengangguran

Capaian ini merupakan hasil dari pelaksanaan berbagai program strategis, seperti pelatihan keterampilan kerja, pengemban

| Kamis, 16 April 2026
Akses Air Bersih di Kawasan PLTP Ulumbu, PLN Perkuat Komitmen Pembangunan Berkelanjutan

Bagi masyarakat setempat, kehadiran fasilitas air bersih ini menjadi solusi atas keterbatasan akses terhadap sumber air

| Kamis, 16 April 2026
Indeks Berita
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2026 Indonesia Surya
Allright Reserved
CONTACT US Lembata
Lembata, Nusa Tenggara Timur
Telp: +6281334640390
INDONESIA SURYA
Viewers Now: 30