Indonesiasurya.com || Kupang - Sopi dan Moke adalah bagian tak terpisahkan dari identitas NTT, sering dihidangkan dalam upacara adat, penyambutan, atau sekadar pemersatu komunitas. Namun, di tangan mahasiswa, minuman- minuman beralkohol berkadar tinggi ini telah keluar dari konteks sakralnya dan menjadi alat utama pelepasan stres, pemenuhan tuntutan pergaulan, bahkan simbol ‘kebebasan’ ala anak kos.
Titik pemicunya bukan tradisi, tapi pelarian. Mahasiswa seringkali berada di bawah tekanan ganda: tuntutan akademik yang keras dan tantangan adaptasi hidup jauh dari rumah.
Miras lokal menawarkan jalan pintas —sebuah euforia instan yang murah dan mudah diakses. Akibatnya, waktu yang tepat, terutama malam hari, bukan lagi dimanfaatkan untuk mengerjakan tugas, melainkan ritual ‘tekan’ (minum) sampai dini hari yang berakhir dengan absen di kelas pagi atau hilangnya fokus selama berhari-hari.
Hal ini lebih dari sekadar gaya hidup melainkan ini adalah krisis sumber daya manusia. Saat mahasiswa menghabiskan waktu, uang, dan kesehatan mereka untuk miras, konsekuensinya bukan hanya IPK yang terancam. Ini adalah hilangnya kesempatan untuk pembangunan diri, terputusnya jaringan profesional yang penting, dan akhirnya, melemahnya kualitas lulusan yang seharusnya menjadi tulang punggung pembangunan daerah.
Perlu “Vaksin Budaya” yang Tepat
Melarang total Miras lokal adalah upaya yang hampir mustahil dan mengabaikan nilai budayanya. Solusinya harus lebih cerdas: re-edukasi budaya. Kampus dan tokoh adat perlu bekerja sama untuk mengajarkan kepada mahasiswa bahwa menghargai moke yang sesungguhnya adalah mengonsumsinya dengan kesadaran dan tanggung jawab, bukan menjadikannya alasan untuk menghancurkan masa depan.
Mahasiswa di Kupang harus sadar bahwa botol yang mereka pegang bukan sekadar minuman, melainkan cerminan prioritas mereka.
Apakah mereka akan membiarkan tradisi minuman mengendalikan nasib mereka, atau menggunakan semangat kearifan lokal untuk menopang diri meraih kesuksesan?