Ungkap Realita Sosial

Logo Banggainesia
Local Edition | | Todays News


Dilema Moke Lokal : Antara Adat, Mabuk, dan IPK Anjlok

Penulis : Rikardus Febrio NIM : 43123047 Mahasiswa Semester 5 Program Studi Ilmu Komunikasi, UNWIRA

Indonesiasurya
Rabu, 10 Desember 2025 | 14:02:57 WIB
Foto

Indonesiasurya.com || Kupang - Sopi dan Moke adalah bagian tak terpisahkan dari identitas NTT, sering dihidangkan dalam upacara adat, penyambutan, atau sekadar pemersatu komunitas. Namun, di tangan mahasiswa, minuman- minuman beralkohol berkadar tinggi ini telah keluar dari konteks sakralnya dan menjadi alat utama pelepasan stres, pemenuhan tuntutan pergaulan, bahkan simbol ‘kebebasan’ ala anak kos.


Titik pemicunya bukan tradisi, tapi pelarian. Mahasiswa seringkali berada di bawah tekanan ganda: tuntutan akademik yang keras dan tantangan adaptasi hidup jauh dari rumah. 


Miras lokal menawarkan jalan pintas —sebuah euforia instan yang murah dan mudah diakses. Akibatnya, waktu yang tepat, terutama malam hari, bukan lagi dimanfaatkan untuk mengerjakan tugas, melainkan ritual ‘tekan’ (minum) sampai dini hari yang berakhir dengan absen di kelas pagi atau hilangnya fokus selama berhari-hari.


Hal ini lebih dari sekadar gaya hidup melainkan ini adalah krisis sumber daya manusia. Saat mahasiswa menghabiskan waktu, uang, dan kesehatan mereka untuk miras, konsekuensinya bukan hanya IPK yang terancam. Ini adalah hilangnya kesempatan untuk pembangunan diri, terputusnya jaringan profesional yang penting, dan akhirnya, melemahnya kualitas lulusan yang seharusnya menjadi tulang punggung pembangunan daerah.


Perlu “Vaksin Budaya” yang Tepat

Melarang total Miras lokal adalah upaya yang hampir mustahil dan mengabaikan nilai budayanya. Solusinya harus lebih cerdas: re-edukasi budaya. Kampus dan tokoh adat perlu bekerja sama untuk mengajarkan kepada mahasiswa bahwa menghargai moke yang sesungguhnya adalah mengonsumsinya dengan kesadaran dan tanggung jawab, bukan menjadikannya alasan untuk menghancurkan masa depan.

Mahasiswa di Kupang harus sadar bahwa botol yang mereka pegang bukan sekadar minuman, melainkan cerminan prioritas mereka. 

Apakah mereka akan membiarkan tradisi minuman mengendalikan nasib mereka, atau menggunakan semangat kearifan lokal untuk menopang diri meraih kesuksesan?


Bagikan

KOMENTAR (0)

Alamat Email anda tidak akan ditampilkan. Wajib diisi untuk kolom *

Berita Terkini

Tiga Desa Raih Predikat Perpustakaan Desa Terbaik di Lomba HUT ke-27 Otonomi Lembata

TBM Papirus menerapkan layanan terbuka. Pengunjung bebas memilih buku yang ingin dibaca atau dipinjam, lalu menghubungi

| Kamis, 15 Oktober 2026
Serah Terima Kepala Kemenag Haji dan Umrah Lembata, Wabup Nasir: Sinergi Kunci Pelayanan Terbaik

Dalam sambutannya, Wabup Nasir menegaskan pergantian ini bukan sekadar serah terima tugas rutin, melainkan momentum memp

| Kamis, 15 Oktober 2026
BLKK Otomotif Ile Lewotolok Nusantara Resmi Beroperasi: Bebas Biaya, Tanpa Batas Usia

Poin paling istimewa, pelatihan ini gratis dan tanpa batasan usia. Siapa pun yang berminat, berapapun usianya, boleh me

| Kamis, 15 Oktober 2026
HUT ke-27 Lembata, Bupati Kanis Tegaskan Pembangunan Harus Berdampak Nyata

Peringatan tahun ini mengusung tema 'Dengan Semangat Taan Tou, Melangkah Bersama Mewujudkan Pemerintahan yang Efektif, S

| Selasa, 13 Oktober 2026
Bupati Kanis Tinjau Laboratorium Kesehatan Hewan Lembata, Pastikan Siap Beroperasi

"Laboratorium ini sangat penting untuk memantau kesehatan ternak, memastikan keamanan daging yang beredar, serta mengawa

| Rabu, 14 Oktober 2026
Indeks Berita
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2026 Indonesia Surya
Allright Reserved
CONTACT US Lembata
Lembata, Nusa Tenggara Timur
Telp: +6281334640390
INDONESIA SURYA
Viewers Now: 12