Lembata - Kepala desa amakaka, Ambrosius Boyang mengakui bahwa pihaknya mengambil langkah pembongkaran median jalan trans Ileape, tanpa melalui koordinasi dinas teknis yang berkompeten soal jalan seperti dinas PUPR dan Dinas perhubungan.
Kepada media ini (12/5/2026) melalui sambungan telp seluler kepala desa mengatakan, bahwa pihaknya tidak merusak median jalan, hanya membongkar untuk penataan dan itu lahir dari kesepakatan dalam rapat desa.
Ambrosius mengatakan, kami tentu tidak ingin merusak fasilitas negara cuma, dalam rapat didesa yang tertuang dalam berita acara, ada tiga hal yang jadi pertimbangan kami untuk melakukan pembongkaran median tersebut.
Dalam berita acara kesepakatan tersebut dijelaskan bahwa, Pada hari, Kamis tanggal tujuh bulan mei tahun dua ribu dua puluh enam, pukul enam belas, bertempat di Desa Amakaka diselenggarakan musyawarah kerja bakti pembersihan lokasi disekitar waisabu antara Pemerintah Desa Amakaka, Lembaga BPD dan Lembaga Adat serta para tokoh yang ada di Desa Amakaka.
Rapat dipimpin oleh tiga orang yakni, Ambrosius Boyang selaku kepala desa, didampingi oleh Ludgerus Lidan Unsur Ketua BPD dan Paulus Puden Unsur Lembaga Adat dan diikuti oleh 25 orang sesuai daftar hadir yang copyan dikirim ke redaksi media ini.
Adapun hasil musyawarah kesepakatan bersama antara lain:
1. Lokasi yang ada didepan patung dan waisabu menjadi tempat seremonial dan pintu
masuk atau gapura penjemputan tamu masuk desa secara permanen.
2. Median jalan kurang lebih delapan meter harus di bongkar karena, sering terjadi
kecelakaan dan berpotensi terjadi kecelakaan dikemudian hari.
3. Median jalan kurang lebih delapan meter harus dibongkar karena, setiap musim hujan
terjadi genangan air yang mengganggu lalulintas pengguna jalan.
Ambrosius mengatakan, kami tidak merusak tapi kami membongkar dan menata. Juga bukan untuk menyambut Anggota DPD Anggelius Wake Keko tapi memang berdasarkan kesepakatan kami tempat tersebut, mau kami jadikan lokasi penyambutan tamu yang akan melakukan kunjungan apapun ke desa amakaka.
"Kami bongkar dan tata, tidak ada niat kami sedikit pun untuk, merusak median jalan. Hanya kami keliru dan kami akui bahwa, kami tidak berkoordinasi dengan dinas teknis" ungkap Ambrosius Boyang.
Kepala desa amakaka juga menegaskan bahwa dirinya tidak mencaci maki saudara Ferdinandus Koda karena dirinya mengatakan ia dan Ferdinandus masih ada hungan keluarga dekat jadi tentu tidak mungkin dirinya melakukan tindakan yang buruk.
"Saya menghormati beliau, sangat tidak mungkin saya, caci maki dia saudara, tapi saat dia tegur dan saya jelaskan bahwa kami lakukan ini sesuai hasil keputusan rapat desa. Saat itu bapak, kakak saya Ferdi Koda ini keluarkan bahasa saya lapor kau, jadi saya spontanitas merespon. Dari situ kami berdua adu argumen. Ketika itu banyak orang di lokasi dan saya sebagai kepala desa harus jaga wibawa saya sebagai pemimpin di hadapan masyarakat juga tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak diharapkan sehingga, meminta beliau untuk pulang saja. Dan saya tidak usir dia tapi saya minta agar beliau pulang" cerita Ambrosius Soal awal mula kejadian.