Ungkap Realita Sosial

Logo Banggainesia
Local Edition | | Todays News


Festival MURO 2026 Digelar di Lembata, Tradisi Adat Jadi Kunci Menjaga Laut dan Budaya

MURO cara Merawat Pesisir, Melestarikan Budaya, untuk Masa Depan Berkelanjutan

Indonesiasurya
Rabu, 22 April 2026 | 14:22:28 WIB
Foto

 Lewoleba, lembata - Masyarakat adat dan berbagai pemangku kepentingan di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan dukungan Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia) dan Yayasan Bina Sejahtera Baru menggelar Festival Muro 2026.

Festival bertajuk “Festival Muro: Merawat Pesisir dan Melestarikan Budaya” ini berlangsung selama dua hari, 22–23 April 2026, sebagai upaya menjaga ekosistem laut sekaligus memperkuat identitas budaya konservasi masyarakat pesisir Lembata.

Berdasarkan penilaian risiko dampak perubahan iklim 2020, Kabupaten Lembata menghadapi ancaman abrasi, ancaman kehilangan atau kerusakan ekosistem seperti rusaknya terumbu karang dan hutan mangrove serta terjadi peningkatan suhu di pesisir. 

Nelayan menghadapi kondisi semakin jauh jarak untuk menangkap ikan dan waktu melaut yang sangat pendek. Untuk menjawab tantangan tersebut MURO merupakan salah satu sistem konservasi laut dan pesisir berbasis kearifan lokal yang telah menjadi tradisi adat turun-temurun masyarakat Lembata yang berfungsi sebagai sistem konservasi laut dan pesisir berbasis kearifan lokal.

Melalui aturan adat, Muro mengatur pemulihan ekosistem dengan sistem zonasi dan waktu pengambilan hasil laut sesuai dengan periode yang telah disepakati, sehingga keberlanjutan sumber daya tetap terjaga.

Tradisi ini tidak hanya mencerminkan kearifan ekologis masyarakat adat, tetapi juga simbol harmoni antara manusia dan alam.

Di tengah tantangan global seperti degradasi lingkungan, perubahan iklim, dan eksploitasi sumber daya alam, Muro menjadi bukti bahwa budaya lokal mampu menawarkan solusi nyata bagi konservasi berkelanjutan. Nilai-nilai dalam Muro sejalan dengan prinsip konservasi modern, seperti partisipasi masyarakat, perlindungan ekosistem, dan keberlanjutan sumber daya.

Festival Muro 2026 hadir sebagai ruang edukasi, refleksi, sekaligus perayaan atas praktik konservasi berbasis budaya ini. Selain meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga laut dan pesisir, festival ini juga bertujuan memperkuat peran masyarakat adat dalam pelestarian budaya serta mendorong peningkatan ekonomi lokal melalui pemanfaatan hasil secara berkelanjutan.

Pada hari pertama, Rabu (22 April 2026), festival diawali dengan kegiatan trekking Atau jelajah  lintas alam menyusuri wilayah konservasi Muro untuk melihat langsung praktik konservasi pesisir. Kegiatan berlanjut dengan pelepasan terumbu karang buatan atau Bioreeftek di lokasi Muro sebagai upaya rehabilitasi ekosistem laut.

Sebanyak 95 terumbu karang buatan ditanam,  serta aksi bersih pantai dan penanaman 400 pohon mangrove sebagai bentuk nyata kepedulian lingkungan.

Hari pertama juga dimeriahkan dengan pentas seni budaya pesisir oleh kaum muda dan pasar lokal yang menyajikan kuliner, suvenir, serta hasil laut masyarakat.

Pada hari kedua, Kamis (23 April 2026), Festival Muro diisi dengan diskusi  bersama Komite Muro dan Kaum Muda yang bertema “Muro sebagai Identitas Budaya Lokal Masyarakat Lembata dalam Konservasi Laut dan Pesisir Berkelanjutan”.

Selain itu, diselenggarakan pendidikan konservasi laut dan pesisir bagi  murid SLTP/MTs dan SLTA, serta berbagai lomba kreatif, seperti lomba menggambar, lomba cipta puisi, dan perlombaan teater yang menggambarkan proses budaya menutup dan membuka Muro. Kegiatan hari kedua ditutup dengan lanjutan pentas seni budaya dan pasar lokal.

Melalui Festival Muro 2026, diharapkan masyarakat desa, nelayan semakin aktif dalam menjaga dan melestarikan konservasi pesisir berbasis adat. Anak-anak dan kaum muda diharapkan semakin mengenal dan mencintai laut sebagai sumber penghidupan, sekaligus pewaris nilai-nilai Muro.

Festival ini juga ditargetkan menghasilkan data dan informasi hasil trekking/jelajah wilayah konservasi Muro, meliputi potensi keanekaragaman hayati, kondisi lingkungan, dan peluang pengembangan konservasi serta ekowisata di wilayah pesisir Lembata.

Resource Mobilization and External Relation Director Plan Indonesia, Urip Budiarto dalam sambutannya menyampaikan: “Dengan melibatkan anak-anak dan generasi muda dalam Festival Muro, kita sedang menanamkan nilai cinta lingkungan, tanggung jawab sosial, dan kebanggaan terhadap budaya lokal.

Dampak perubahan iklim di pesisir sangat nyata, kita tidak ingin kaum muda  kita menghadapi dampak yang lebih luas, sehingga harapan kami kaum muda dapat belajar dan menjadi penggerak di pesisir untuk masa depan yang lebih baik. Plan Indonesia melihat Muro sebagai contoh nyata bagaimana perlindungan lingkungan dan pemenuhan hak anak dapat berjalan seiring dalam konteks budaya masyarakat adat.”

Festival Muro diharapkan menjadi momentum kolaborasi antara masyarakat adat, pemerintah, akademisi, pelajar, pelaku usaha, dan wisatawan dalam menjaga laut dan pesisir, sekaligus memperkenalkan Lembata sebagai destinasi budaya dan ekowisata berbasis kearifan local, jelas Urip.

Sementara itu, Kornelia Penate, Ketua YBS Baru, Lembata juga menegaskan, bahwa “Festival Muro ini adalah bentuk penghargaan kita pada budaya melalui partisipasi masyarakat adat, nelayan, kaum muda perempuan dan pemerintah desa yang telah mendorong konservasi Muro ini berjalan dengan baik tanpa meninggalkan esensi dari budaya itu sendiri, harapanya bahwa zona-zona ini dijaga dan dikembangkan dengan lebih baik, konservasi Muro ini adalah investasi, mari kita bersama sama melanjutkan untuk menjaga laut dan pesisir dari ancaman apapun.”


Bagikan

KOMENTAR (0)

Alamat Email anda tidak akan ditampilkan. Wajib diisi untuk kolom *

Berita Foto

Berita Terkini

Memalukan, Oknum Polisi Polres Lembata Diduga "Kadali" Uang BUMDES Puluhan Juta.

Frengki mengatakan dirinya bersama kepala desa sempat mencari keberadaan RB di Polres dan beberapa unit kerja lainnya pa

| Rabu, 22 April 2026
Cara Mudah Mendeteksi Kebohongan Dalam Waktu Singkat (3 Detik) Melalui Arah Mata.

Pola ini sering di gunakan untuk melihat bagaimana seseorang memproses informasi di otaknya.

| Rabu, 22 April 2026
Seleksi Hardiknas Nagawutung 2026: Ajang Kompetisi SMP Cetak Wakil Terbaik Menuju Lembata

Dalam sambutannya, Ketua MKKS SMP Kecamatan Nagawutung, Siprianus Wedok Hala, S.Pd menegaskan bahwa kompetisi ini bukan

| Selasa, 21 April 2026
Realisasi PAD Lembata Triwulan I 2026 Tumbuh 4,6 Persen

Langkah ini akan disesuaikan dengan hasil koordinasi teknis lanjutan. Tujuannya jelas, yakni memperkuat daya beli masyar

| Selasa, 21 April 2026
Deadline 30 April Cara Bupati Lembata Menyisir Peserta JKN Salah Sasaran

Pelaporan Rutin: Progres pekerjaan harus dilaporkan secara berkala guna memantau kendala teknis di tingkat desa/keluraha

| Selasa, 21 April 2026
Skor Pengadaan Lembata Cukup, Indek Profesionalisme ASN Masih Rendah

Masalah Utamanya, malas mengunggah (upload) dokumen dari SK CPNS hingga riwayat jabatan terbaru

| Selasa, 21 April 2026
Berikut 10 Tanda kamu kurang menaarik dan membosankan Dimata orang lain.

sifat membosankan biasnya hilang ketika seseorang Mulai berani mengeksplorasi potensi unik yang ada didalam diri

| Selasa, 21 April 2026
GM GRIB Jaya Madina Kritik Keras: Longsor Berulang, Pemprov Sumut Seolah Tutup Mata

Peristiwa ini sekaligus mempertegas bahwa persoalan infrastruktur di jalur Panyabungan–Natal bukan lagi isu teknis, me

| Selasa, 21 April 2026
Indeks Berita
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2026 Indonesia Surya
Allright Reserved
CONTACT US Lembata
Lembata, Nusa Tenggara Timur
Telp: +6281334640390
INDONESIA SURYA
Viewers Now: 19