Indonesiasurya.com || Kupang, NTT -- Menjelang perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, Pemerintah Kota Kupang kembali menunjukkan keseriusannya dalam menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok.
Langkah menghadirkan Pasar Murah melalui Disperindag merupakan bentuk intervensi strategis yang patut diapresiasi, terutama ketika potensi kenaikan harga selalu menjadi ancaman musiman yang dapat membebani masyarakat kecil.
Pelaksanaan Pasar Murah di beberapa titik strategis seperti Fatululi, Kecamatan Alak, dan halaman Kantor Camat Oebobo menunjukkan bahwa pemerintah memahami kebutuhan masyarakat yang tinggal di wilayah padat penduduk.
Komoditas penting seperti beras, minyak goreng, telur, dan gula dijual dengan harga subsidi, sehingga memberikan akses nyata bagi warga untuk memenuhi kebutuhan dasar tanpa dihantui lonjakan harga yang tidak wajar.
Pernyataan Pj. Wakil Wali Kota, Serena C. Francis, bahwa stok kebutuhan pokok aman hingga Januari 2026 menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah, Bulog, dan distributor lokal.
Kolaborasi ini adalah kunci untuk memastikan tidak ada spekulan yang memanfaatkan momentum Nataru untuk menaikkan harga secara sepihak. Dengan demikian, Pasar Murah tidak hanya sekadar kegiatan seremonial, tetapi menjadi mekanisme kontrol harga yang sangat efektif.
Kebijakan pembatasan pembelian, seperti maksimal 5 kilogram beras dan 2 liter minyak goreng per kepala keluarga, juga menjadi langkah cerdas agar program subsidi ini tepat sasaran.
Pemerintah ingin memastikan manfaatnya dirasakan oleh sebanyak mungkin warga, bukan hanya segelintir oknum yang mencoba membeli dalam jumlah besar untuk keuntungan pribadi.
Dengan target menjangkau lebih dari 5.000 kepala keluarga, jelas bahwa Pemkot Kupang sedang berupaya melindungi ketahanan ekonomi rumah tangga. Apalagi, perbedaan harga yang cukup signifikan – seperti beras medium Rp 12.000/kg dibanding harga pasar Rp 13.500/kg – memberikan keuntungan langsung bagi masyarakat.
Oleh karena itu, kehadiran Pasar Murah ini harus dipahami sebagai langkah strategis, bukan sekadar agenda tahunan. Pemerintah sedang memastikan bahwa inflasi dapat ditekan dan daya beli masyarakat tetap terjaga. Kini tinggal bagaimana masyarakat memanfaatkan program ini secara bijak, membeli sesuai kebutuhan, dan menghindari panic buying.
Secara keseluruhan, Pasar Murah jelang Nataru adalah bukti bahwa Pemkot Kupang tidak tinggal diam dalam menghadapi tantangan ekonomi musiman. Ini adalah kebijakan yang berpihak pada rakyat, dan patut menjadi contoh bagi daerah lain dalam menjaga kestabilan harga dan keberlanjutan ekonomi keluarga.