Nagawutung, Indonesiasurya.com – Menjelang perayaan Natal dan penutupan Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2025/2026, SMAN 1 Nagawutung Lembata NTT, memberikan ruang khusus bagi penguatan iman dan karakter peserta didik melalui kegiatan rekoleksi rohani bagi siswa beragama Katolik.
Kegiatan ini berlangsung khidmat di Aula Sekolah pada Sabtu, 20 Desember 2025, sebelum agenda pembagian rapor bersama orang tua dan wali siswa digelar.
Rekoleksi tersebut dipandu langsung oleh Fr. Yohanes Don Bosco Belawa Teluma, Frater TOP yang saat ini melayani di Paroki Kristus Raja Wangatoa.
Kehadirannya membawa suasana yang hangat, reflektif, sekaligus dekat dengan realitas kehidupan remaja masa kini. Para siswa tampak mengikuti setiap sesi dengan serius, namun tetap penuh kegembiraan dan antusiasme.
Mengangkat tema “Menjadi Garam dan Terang Dunia” (bdk. Mat. 5:13–16), rekoleksi ini mengajak para siswa untuk merenungkan kembali jati diri mereka sebagai pribadi beriman yang dipanggil untuk memberi makna, rasa, dan terang bagi lingkungan sekitar—baik di keluarga, sekolah, maupun masyarakat.
Dalam suasana hening dan reflektif, para siswa diajak untuk “berani merindu pada sunyi”, sebuah ajakan untuk menata batin dan mendengarkan suara Tuhan di tengah hiruk-pikuk dunia modern.
Dalam pendalaman materi, Frater Yohanes menegaskan bahwa menjadi garam berarti berani menjaga nilai, memurnikan relasi, serta menghadirkan kebijaksanaan di tengah persoalan hidup, sementara menjadi terang berarti menolak kegelapan dalam berbagai bentuknya, seperti kebohongan, kekerasan, perundungan, kemalasan, dan penyalahgunaan media sosial.
Terang iman, menurutnya, harus tampak nyata dalam tindakan sederhana: sikap jujur, kepedulian terhadap sesama, keberanian meminta dan memberi maaf, serta komitmen untuk hidup beretika dan bermoral.
Koordinator Kerohanian SMAN 1 Nagawutung, Hironimus Hali, S.Ag., dalam keterangannya menyampaikan bahwa kegiatan rekoleksi ini merupakan bagian integral dari proses pendidikan di sekolah. “
Aspek rohani siswa harus mendapat porsi yang seimbang dengan aspek akademik. Rekoleksi ini dimaksudkan agar siswa tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan moral,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa momentum menjelang Natal menjadi waktu yang tepat bagi siswa untuk melakukan refleksi diri, mengevaluasi perjalanan hidup selama satu semester, serta menyiapkan hati untuk menyambut kelahiran Kristus dengan semangat pembaruan.
Harapannya, nilai-nilai yang diperoleh dalam rekoleksi tidak berhenti pada tataran pemahaman, tetapi diwujudkan dalam sikap dan perilaku nyata sehari-hari.
Kegiatan rekoleksi ini menjadi bukti nyata komitmen SMAN 1 Nagawutung dalam membangun pendidikan yang utuh dan berkarakter. Di tengah tantangan globalisasi dan derasnya arus media sosial, para siswa diajak untuk tetap berpijak pada iman, menjaga integritas diri, serta berani menjadi pelaku iman dan moral di tengah dunia yang terus berubah.
Menjelang Natal, para siswa pun diajak untuk kembali kepada sumber terang sejati, Yesus Kristus, dan menjadikan hidup mereka sebagai sarana kehadiran kasih Allah bagi sesama. Dengan demikian, Natal tidak hanya dirayakan sebagai peristiwa liturgis, tetapi juga sebagai panggilan untuk hidup yang lebih bermakna—menjadi garam yang memberi rasa dan terang yang membawa harapan. (Hans/Humas SMANSA Naga)