INDONESIASURYA.COM - Stunting masih menjadi salah satu persoalan kesehatan terbesar di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Meski pemerintah pusat dan daerah telah menjalankan berbagai program percepatan penurunan stunting, kenyataannya angka kasus ini belum menurun secara signifikan. Masalah stunting tidak hanya soal tubuh anak yang lebih pendek dari usianya, tetapi juga terkait kualitas sumber daya manusia NTT di masa depan. Jika tidak ditangani secara serius, stunting dapat menghambat perkembangan generasi yang kelak menjadi penggerak pembangunan daerah.
Salah satu faktor utama yang menyebabkan tingginya stunting di Kupang adalah masih terbatasnya pemahaman masyarakat tentang gizi dan kesehatan ibu-anak. Banyak keluarga yang belum memahami pentingnya asupan bergizi pada seribu hari pertama kehidupan anak. Konsumsi makanan bergizi sering kali terhambat oleh kondisi ekonomi, tetapi tidak jarang pula disebabkan oleh minimnya edukasi. Makanan lokal sebenarnya sangat potensial seperti ikan, sayuran, dan umbi-umbian namun belum dimanfaatkan secara optimal.
Di samping itu, akses terhadap layanan kesehatan yang merata juga menjadi tantangan. Beberapa wilayah pinggiran Kota Kupang masih menghadapi keterbatasan fasilitas dan tenaga kesehatan. Pemeriksaan kehamilan, edukasi gizi, hingga pemantauan tumbuh kembang anak belum dilakukan secara konsisten. Ketika layanan dasar tidak terpenuhi, maka kemungkinan terjadinya stunting akan semakin besar.
Penanganan stunting tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah. Masalah ini membutuhkan kolaborasi penuh antara pemerintah daerah, tenaga kesehatan, dunia pendidikan, tokoh masyarakat, hingga keluarga. Edukasi gizi harus diperkuat mulai dari tingkat kelurahan, posyandu, hingga sekolah. Program bantuan pangan perlu diarahkan agar lebih tepat sasaran, sementara pemanfaatan pangan lokal harus digalakkan melalui kampanye kreatif yang mudah dipahami masyarakat.
Kota Kupang sejatinya memiliki potensi besar untuk menekan angka stunting. Ketersediaan pangan laut melimpah, aktivitas posyandu cukup aktif, dan masyarakat memiliki budaya gotong royong yang kuat. Potensi ini akan menjadi kekuatan besar apabila seluruh pihak bersedia bekerja bersama. Stunting bukan sekadar masalah kesehatan, tetapi masalah masa depan. Generasi NTT berhak tumbuh sehat, cerdas, dan produktif agar dapat memajukan daerahnya sendiri.
Jika kita ingin melihat Kupang lebih maju dalam 10–20 tahun ke depan, maka hal pertama yang harus dituntaskan adalah stunting. Investasi terbesar suatu daerah bukanlah pembangunan fisik, melainkan pembangunan manusia. Dan pembangunan manusia dimulai dari memastikan setiap anak tumbuh tanpa stunting. Kupang mampu berubah asal ada kemauan kolektif untuk peduli.