Ungkap Realita Sosial

Logo Banggainesia
Local Edition | | Todays News


Banjir di Sumatera: refleksi mahasiswa tentang bencana, kebijakan, dan masa depan

Penulis ; Pedro Ilmu Komunikasi Unwira Kupang

Indonesiasurya
Jumat, 12 Desember 2025 | 08:13:24 WIB
Foto

Bencana banjir dan longsor parah yang menghantam beberapa provinsi di Sumatera akhir 2025 bukan hanya angka statistik—ia adalah panggilan keras bagi bangsa yang ingin bertahan di tengah perubahan iklim dan tekanan pembangunan.

Dalam beberapa hari, ratusan nyawa melayang, ribuan orang luka-luka, dan puluhan ribu rumah rusak. Laporan media menyebutkan kebutuhan dana rekonstruksi mencapai sekitar 51,8 triliun rupiah setelah banjir yang dipicu siklon, dengan sekitar 950 korban meninggal dan ratusan masih hilang di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. 

Reuters

Angka ini menumbuhkan rasa duka, sekaligus menuntut kita meninjau ulang cara negara dan masyarakat mengelola wilayah rawan bencana.

Sebagai mahasiswa, kita sering diajarkan teori pembangunan dan lingkungan yang ideal. Nyatanya, di lapangan terlihat bahwa kombinasi faktor alam ekstrem dan praktik pengelolaan lahan yang rapuh memperparah bencana.

Para pakar dari Universitas Gadjah Mada menegaskan bahwa banjir bandang akhir November 2025 merupakan bagian dari pola berulang hidrometeorologi yang kian meningkat; curah hujan ekstrem, dipicu fenomena atmosfer seperti siklon tropis, diperparah oleh kerusakan hutan di hulu daerah aliran sungai yang melemahkan daya tampung alam.

Universitas Gadjah Mada

Pernyataan ini menggugah: bukan sekadar soal hujan lebat, tetapi juga soal bagaimana kita merusak benteng alam yang seharusnya menjadi tameng pertama.

Kita juga melihat dampak sosial-ekonomi yang brutal: kelangkaan pasokan, harga bahan pokok melambung, akses logistik terganggu, dan bantuan yang sulit sampai ke beberapa desa. Laporan lapangan menyebutkan bahwa sejumlah wilayah sempat lima hari tanpa pasokan makanan, serta harga cabai melejit hingga Rp200 ribu per kilogram karena stok terendam dan distribusi terputus. 

Mongabay.co.id

 Ini bukan hanya masalah kelaparan sesaat; ini menunjukan ketahanan pangan lokal yang rapuh ketika infrastruktur rusak, dan kapasitas negara serta masyarakat untuk merespon secara cepat dan merata masih sangat terbatas.

Sebagai generasi penerus, mahasiswa punya peran ganda: kritik dan solusi. Kritiknya jelas—pemerintah dan pemangku kepentingan harus mengakui bahwa kerusakan ekosistem, tata ruang yang kurang bijak, dan kesiapsiagaan yang belum memadai memperparah dampak bencana. Solusinya harus konkret, bukan hanya retorika. Misalnya, penanaman kembali dan perlindungan hutan di hulu DAS, perbaikan tata ruang yang menolak ekspansi ke area rawan, peningkatan sistem peringatan dini, dan penguatan jaringan logistik untuk memastikan bantuan cepat sampai tanpa bergantung pada jalur yang mudah terputus. Lebih jauh, program pendidikan bencana bagi warga setempat perlu ditingkatkan agar mereka bukan hanya penerima bantuan, tetapi juga bagian dari sistem mitigasi dan pemulihan.

Opini mahasiswa tak cukup hanya bicara idealisme; ia harus membawa semangat kerja nyata. Kita dapat memulai dari kampus: penelitian lintas disiplin tentang adaptasi iklim, kerja bakti penanaman pohon di lahan kritis, program magang atau kemitraan dengan daerah terdampak untuk membangun kapasitas lokal.

Suara mahasiswa yang kritis dan produktif bisa menjadi energi tambahan bagi kebijakan yang lebih manusiawi dan berkelanjutan. Jika tidak, bencana serupa akan terus terulang, dan yang tersisa hanyalah laporan duka yang semakin panjang.


Bagikan

KOMENTAR (0)

Alamat Email anda tidak akan ditampilkan. Wajib diisi untuk kolom *

Berita Foto

Berita Terkini

Usai Pencangan Sensus Ekonomi, Petugas BPS Langsung Terjun Lapangan

Para tugas Sensus Ekonomi (SE) yang diterjunkan ke lapangan bertugas untuk mengumpulkan data akurat mengenai berbagai ke

| Senin, 15 Juni 2026
Pencanangan Sensus Ekonomi 2026, BPS Harap Masyarakat Berikan Data Yang Benar

Leonard Lalang mengatakan, Sensus ini bertujuan menyediakan data dasar yang akurat dan komprehensif mengenai seluruh keg

| Senin, 15 Juni 2026
Terapkan Irigasi Tetes, Desa Bean di Lembata Dijadikan Model Pertanian Efisien

Sistem ini sangat efisien. Selain mampu menghemat penggunaan air secara signifikan, irigasi tetes juga menjaga kelembapa

| Minggu, 14 Juni 2026
Mundur Setelah Sampaikan LKPJ, Petrus Gero Diganti Alexander Atawolo Jadi Ketua DPD II Golkar Lembata

Kami bicara bukan tentang kompetisi tapi tentang kerja, untuk membesarkan Golkar. Kami bicara tentang persaudaraan, buka

| Minggu, 14 Juni 2026
GMNI Sikka Tolak Pembangunan Fila Dan Galangan Kapal Di Wair Terang Maumere

GMNI melalui Iko Gobang menilai sosialisasi pada, Senin 13 Juni 2026 terkait, Edukasi Usaha Dan Atau / Kegiatan Pemban

| Sabtu, 13 Juni 2026
Albertus Greg Tan, Orang Muda Yang Bantu Bangun 215 Gereja Seluruh Indonesia

Ini tentang keikhlasan berbagi, Greg telah menjadi contoh yang baik bagi semua kita" ujar Ciku.

| Minggu, 14 Juni 2026
Indeks Berita
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2026 Indonesia Surya
Allright Reserved
CONTACT US Lembata
Lembata, Nusa Tenggara Timur
Telp: +6281334640390
INDONESIA SURYA
Viewers Now: 13