Ungkap Realita Sosial

Logo Banggainesia
Local Edition | | Todays News


WALHI NTT Desak Investigasi Menyeluruh Terkait Terdamparnya Paus Pilot di Rote,

Yuvensius menjelaskan, paus pilot merupakan mamalia laut yang hidup berkelompok dan memiliki sistem navigasi berbasis gelombang suara (echolocation).

Indonesiasurya
Rabu, 11 Maret 2026 | 19:07:21 WIB
Ilustrasi

Kupang -  Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Eksekutif Daerah Nusa Tenggara Timur (WALHI NTT) menyampaikan keprihatinannya atas peristiwa terdamparnya lebih dari 50 paus pilot di Pantai Mbadokai, Desa Deranitan dan juga Pantai Sanama, Desa Fuafuni, Kecamatan Rote Barat Daya, Kabupaten Rote Ndao, pada Senin (9/3/2026). 

Menurut Direktur WALHI NTT, Yuvensius Stevanus Nonga menegaskan bahwa peristiwa ini tidak bisa dianggap sebagai insiden insiden satwa liar yang terdampar begitu saja. Menurut Yuvensius, insiden ini merupakan, “Peringatan serius tentang kondisi ekosistem laut di wilayah Nusa Tenggara Timur yang semakin rentan.”

Yuvensius menjelaskan, paus pilot merupakan mamalia laut yang hidup berkelompok dan memiliki sistem navigasi berbasis gelombang suara (echolocation). 

Di Indonesia Paus Pilot merupakan jenis mamalia laut yang dilindungi Undang-Undang berdasarkan Permen Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. P.106/MENLHK/ SETJEN/KUM.1/12/2018 Tahun 2018, dan secara global terdaftar dalam Appendix II dari Convention on International Trade in Endangered Species (CITES). 

Dalam banyak kasus di berbagai belahan dunia, fenomena terdampar secara massal sering dikaitkan dengan gangguan pada sistem navigasi tersebut, baik akibat faktor alam maupun akibat tekanan yang bersumber dari aktivitas manusia di laut. 

“Karena itu, peristiwa di Rote Ndao harus dipahami sebagai indikasi adanya gangguan ekologis yang lebih luas di perairan sekitar,” tegas Yuvensius.

Lebih lanjut, Yuvensius menjelaskan, Perairan Nusa Tenggara Timur, termasuk wilayah laut di sekitar Rote, merupakan bagian dari jalur migrasi penting mamalia laut dunia. Kawasan ini terhubung dengan sistem arus laut lintas Indonesia yang mempertemukan berbagai spesies paus dan lumba-lumba yang bermigrasi dari Samudera Pasifik menuju Samudera Hindia. 

“Keberadaan mamalia laut di wilayah ini menandakan bahwa ekosistem laut NTT memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan biodiversitas laut global. Oleh karena itu, kejadian terdamparnya puluhan paus dalam satu waktu merupakan sinyal ekologis yang tidak boleh diabaikan,” tegas Yuvensius.

Atas insiden ini, WALHI NTT menilai bahwa berbagai kemungkinan penyebab perlu diselidiki secara serius dan terbuka. Gangguan navigasi paus dapat dipicu oleh perubahan kondisi oseanografi, pergeseran arus laut, maupun perubahan distribusi mangsa akibat perubahan iklim. 

Namun demikian, berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa aktivitas manusia di laut, seperti polusi suara dari kapal, survei seismik, serta berbagai bentuk eksploitasi sumber daya laut, dapat mengganggu sistem komunikasi dan navigasi mamalia laut yang sangat sensitif terhadap gelombang suara. 

Selain itu, “penurunan kualitas ekosistem laut akibat pencemaran dan eksploitasi berlebihan juga berpotensi mempengaruhi kesehatan dan perilaku satwa laut.”

Peristiwa ini juga memperlihatkan pentingnya mengevaluasi tata kelola laut di Nusa Tenggara Timur. Selama beberapa tahun terakhir, wilayah pesisir dan laut di provinsi ini semakin terbuka bagi berbagai aktivitas ekonomi yang berorientasi pada ekstraksi sumber daya, mulai dari eksploitasi perikanan skala besar hingga berbagai proyek pembangunan di wilayah pesisir. 

Kata Yuvensius, tanpa pengawasan ekologis yang ketat, tekanan terhadap ekosistem laut dapat meningkat dan berpotensi mengganggu keseimbangan habitat berbagai spesies, termasuk mamalia laut.

Karena itu, Yuvensius mendesak pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk segera melakukan investigasi ilmiah secara menyeluruh terhadap penyebab peristiwa terdamparnya paus pilot di Rote Ndao. 

“Investigasi ini harus melibatkan peneliti independen, lembaga akademik, serta organisasi masyarakat sipil agar hasilnya transparan dan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.

WALHI NTT juga menilai bahwa peristiwa ini menunjukkan pentingnya memperkuat sistem respon cepat terhadap mamalia laut terdampar di wilayah NTT,” urainya. 

Yuvensius juga menekankan bahwa provinsi yang memiliki wilayah laut sangat luas seperti NTT seharusnya memiliki mekanisme yang terkoordinasi dengan baik antara pemerintah, peneliti, organisasi masyarakat sipil, dan masyarakat pesisir dalam menangani kejadian-kejadian seperti ini.

Di sisi lain, Yuvensius juga memberikan apresiasi kepada masyarakat pesisir di Rote Ndao yang telah berupaya membantu penyelamatan paus-paus yang terdampar. Solidaritas masyarakat dalam menjaga dan menyelamatkan satwa laut menunjukkan bahwa komunitas pesisir memiliki hubungan yang kuat dengan laut sebagai ruang hidup mereka. 

“Pengalaman ini sekaligus menegaskan bahwa perlindungan laut tidak dapat dipisahkan dari peran aktif masyarakat yang hidup dan bergantung pada ekosistem pesisir,” ungkap Yuvensius.

Lanjutnya, insiden terdamparnya puluhan paus pilot di Pantai Mbadokai dan Pantai Sanama harus dipandang sebagai peringatan ekologis bagi kondisi laut di Nusa Tenggara Timur. Pemerintah perlu menempatkan perlindungan ekosistem laut sebagai prioritas utama, bukan sekadar sebagai pelengkap dalam agenda pembangunan. 

“Tanpa langkah perlindungan yang serius, tekanan terhadap laut akan terus meningkat dan berpotensi mengancam keberlanjutan keanekaragaman hayati serta ruang hidup masyarakat pesisir di wilayah ini,” tutup Yuvensius.


Bagikan

KOMENTAR (0)

Alamat Email anda tidak akan ditampilkan. Wajib diisi untuk kolom *

Berita Foto

Berita Terkini

Usai Pencangan Sensus Ekonomi, Petugas BPS Langsung Terjun Lapangan

Para tugas Sensus Ekonomi (SE) yang diterjunkan ke lapangan bertugas untuk mengumpulkan data akurat mengenai berbagai ke

| Senin, 15 Juni 2026
Pencanangan Sensus Ekonomi 2026, BPS Harap Masyarakat Berikan Data Yang Benar

Leonard Lalang mengatakan, Sensus ini bertujuan menyediakan data dasar yang akurat dan komprehensif mengenai seluruh keg

| Senin, 15 Juni 2026
Terapkan Irigasi Tetes, Desa Bean di Lembata Dijadikan Model Pertanian Efisien

Sistem ini sangat efisien. Selain mampu menghemat penggunaan air secara signifikan, irigasi tetes juga menjaga kelembapa

| Minggu, 14 Juni 2026
Mundur Setelah Sampaikan LKPJ, Petrus Gero Diganti Alexander Atawolo Jadi Ketua DPD II Golkar Lembata

Kami bicara bukan tentang kompetisi tapi tentang kerja, untuk membesarkan Golkar. Kami bicara tentang persaudaraan, buka

| Minggu, 14 Juni 2026
GMNI Sikka Tolak Pembangunan Fila Dan Galangan Kapal Di Wair Terang Maumere

GMNI melalui Iko Gobang menilai sosialisasi pada, Senin 13 Juni 2026 terkait, Edukasi Usaha Dan Atau / Kegiatan Pemban

| Sabtu, 13 Juni 2026
Albertus Greg Tan, Orang Muda Yang Bantu Bangun 215 Gereja Seluruh Indonesia

Ini tentang keikhlasan berbagi, Greg telah menjadi contoh yang baik bagi semua kita" ujar Ciku.

| Minggu, 14 Juni 2026
Indeks Berita
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2026 Indonesia Surya
Allright Reserved
CONTACT US Lembata
Lembata, Nusa Tenggara Timur
Telp: +6281334640390
INDONESIA SURYA
Viewers Now: 5