Ungkap Realita Sosial

Logo Banggainesia
Local Edition | | Todays News


Antara Kopi, Tugas, dan Kecemasan: Potret Kehidupan Mahasiswa Zaman Now

Penulis ; Rena Panggabean Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi UNWIRA Kupang

Indonesiasurya
Minggu, 26 Oktober 2025 | 21:55:37 WIB
Ilustrasi

Kopi, tugas, dan kecemasan — tiga kata yang tampak sederhana, namun bagi banyak mahasiswa, ketiganya adalah bagian dari kehidupan sehari-hari yang saling berkaitan erat.

Kopi menjadi teman begadang saat dikejar tenggat tugas yang tak ada habisnya.

Tugas menjadi simbol tanggung jawab dan tekanan akademik yang terus menuntut kesempurnaan.

Sementara kecemasan muncul sebagai bayangan yang selalu mengikuti, menandai pergulatan batin antara idealisme dan realitas hidup mahasiswa masa kini.

Di antara ketiganya, tercermin wajah generasi muda yang berjuang mempertahankan semangat di tengah tekanan zaman yang kian kompleks.

Mahasiswa sering disebut sebagai “agen perubahan.” Mereka diharapkan menjadi garda depan dalam menciptakan masa depan bangsa yang lebih baik. Namun, di balik slogan ideal itu, kehidupan mahasiswa zaman sekarang menyimpan gejolak batin yang tidak ringan.

Di antara tumpukan tugas, rutinitas kuliah, dan hiruk-pikuk media sosial, muncul generasi yang hidup di bawah tekanan: tekanan untuk berprestasi, eksis, dan bertahan secara mental.

Kini, kehidupan mahasiswa tak lagi sesederhana belajar di kampus dan menimba ilmu. Ada dimensi lain yang ikut hadir—tuntutan ekonomi, ekspektasi orang tua, hingga tekanan sosial untuk selalu terlihat “sukses.” Tak sedikit mahasiswa meneguk kopi bukan sekadar untuk menahan kantuk, tetapi untuk menahan cemas.

Kopi menjadi simbol perlawanan terhadap waktu yang terasa terlalu cepat, sekaligus teman setia di tengah malam panjang mengerjakan tugas atau mencari makna diri di antara notifikasi yang tak kunjung berhenti.

Fenomena ini mencerminkan perubahan besar dalam lanskap kehidupan kampus. Mahasiswa tumbuh di era yang serba cepat, di mana informasi mengalir tanpa henti dan standar kesuksesan semakin kabur. Media sosial menampilkan potret keberhasilan orang lain seolah tanpa proses.

Akibatnya, banyak mahasiswa merasa tertinggal bahkan sebelum sempat melangkah. Rasa cemas, burnout, dan hilangnya motivasi belajar menjadi realitas yang semakin sering terdengar, namun jarang dibicarakan secara serius.

Ironisnya, sistem pendidikan tinggi kita masih sering menilai mahasiswa dari seberapa cepat mereka lulus, seberapa tinggi IPK mereka, atau seberapa aktif mereka di organisasi. Padahal, di balik angka-angka itu, banyak mahasiswa sedang berjuang melawan kelelahan mental, kebingungan arah hidup, bahkan krisis eksistensi yang tak kasatmata. Kampus, yang seharusnya menjadi ruang belajar dan tumbuh, kadang justru menjadi sumber tekanan baru.

Sudah saatnya kita mengubah cara pandang terhadap kehidupan mahasiswa. Mereka bukan robot akademik yang harus terus berproduksi, melainkan manusia muda yang sedang mencari jati diri. Dunia pendidikan seharusnya memberi ruang bagi mereka untuk bernapas, berefleksi, dan tumbuh sesuai ritme masing-masing. Kesehatan mental harus dipandang sebagai bagian tak terpisahkan dari keberhasilan akademik.

Kopi, tugas, dan kecemasan hanyalah simbol dari realitas yang lebih dalam—tentang generasi muda yang mencoba bertahan di dunia yang terus bergerak cepat. Mereka tidak butuh sekadar motivasi kosong, tetapi empati, pemahaman, dan sistem pendidikan yang lebih manusiawi. Karena pada akhirnya, yang kita harapkan bukan hanya mahasiswa yang lulus dengan predikat cum laude, tapi manusia muda yang mampu berdiri teguh, berpikir jernih, dan tetap waras di tengah badai zaman.


Bagikan

KOMENTAR (0)

Alamat Email anda tidak akan ditampilkan. Wajib diisi untuk kolom *

Berita Foto

Berita Terkini

Solusi Pasar Jagung, Pemda Beli Jagung Tongkol, Harga Dijamin, Pembayaran Tunai

Kebijakan ini memberi kelonggaran bagi petani yang selama ini kesulitan memenuhi standar kadar air rendah akibat keterba

| Sabtu, 18 April 2026
Aksi KMI Jilid I di KPK, Tuduh Kadinkes Madina Jadi “Penagih Uang Keamanan”

Dugaan kuat bahwa saudara Kepala Dinas Kesehatan Mandailing Natal menjadi king maker sekaligus penagih berkedok uang kea

| Sabtu, 18 April 2026
Siapa Pelaku Pemotongan Rompong Nelayan Desa Balauring Lembata?

Meski ada kasak kusuk di tengah masyarakat, namun, belum ada cukup bukti tentang siapa dalang dibalik perbuatan tidak be

| Jumat, 17 April 2026
Jadi Agen BRI Link, Ama Sayang Akui Manfaat Positif Dan Keuntungan Ekonomi

selama melayani para pengguna jasa agen BRILink tidak pernah mendapatkan keluhan dan para pengguna jasa mengakui kecepat

| Jumat, 17 April 2026
Didukung IDEP, Barakat Gelar Workshop "Muro Moel Wutun" Libatkan Pemangku Adat Belen Raya Lewuhala.

Workshop ini menjadi ruang kolaborasi antara pengetahuan lokal dan kajian ilmiah terkait praktik Muro sebagai kearifan l

| Jumat, 17 April 2026
Pemda Lembata Serahkan Bantuan Kepada Korban Gempa Desa Babokerig Nagawutung

pentingnya penguatan mitigasi, terutama dengan adanya indikasi sesar aktif baru yang berpotensi menimbulkan risiko lanju

| Jumat, 17 April 2026
Kembangkan Program Jambu Mete, Pemda Lembata Bangun Sektor Perkebunan

Kegiatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas tanaman jambu mente sekaligus menyediakan sumb

| Jumat, 17 April 2026
Indeks Berita
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2026 Indonesia Surya
Allright Reserved
CONTACT US Lembata
Lembata, Nusa Tenggara Timur
Telp: +6281334640390
INDONESIA SURYA
Viewers Now: 12