Ungkap Realita Sosial

Logo Banggainesia
Local Edition | | Todays News


Corong Alus Merehabilitasi Jokowi?

Oleh: LL

Indonesiasurya
Senin, 31 Agustus 2026 | 12:41:52 WIB
Ilustrasi

Tugas jurnalisme adalah "menyenangkan orang susah dan menyusahkan orang senang" (comfort the afflicted and afflict the comfortable). Ketika jurnalisme memberi panggung kepada politikus bermasalah untuk menata kembali citranya, maka jurnalisme berubah menjadi corong. Wawancara digelar untuk memberi panggung kepada si politikus untuk membangun kembali narasinya. Wawancara eksklusif Bocor Alus (Bocal) dengan Jokowi,  lebih mirip audiensi, upaya merehabilitasi politikus yang sudah "Ancang-Ancang Bermanuver untuk Pemilu 2029".

Bocal menyebut wawancara eksklusif dengan Jokowi berlangsung dalam dua pertemuan, 22 Juli dan 11 Agustus 2026. Bocal  dikenal  kritis terhadap Jokowi, namun entah kenapa hasil wawancara dengan Jokowi tidak menunjukkan kenakalannya dalam membocorkan Informasi. Justru sengaja menyembunyikannya, dalam wawancara pertama yang off the record.

Yang dibocorkan cuma wawancara on the record hambar dan membosankan. Terkesan memberikan panggung, corong, bagi Jokowi untuk menjelaskan persepsi dan posisi dirinya. Para jurnalis Bocal kehilangan daya kritis-nakalnya,  wawancara menjadi sekedar percakapan ringan (soft talk, alih-alih hard talk),  Memberi Jokowi keleluasaan untuk berbicara relatif tanpa sanggahan, dan kesempatan menata ulang bingkai cerita tentang dirinya.

Bocal tidak menempatkan Jokowi sebagai mantan presiden yang harus mempertanggungjawabkan kebijakan dan perilakunya saat berkuasa. Melainkan sebagai politikus yang  leluasa menjelaskan berbagai kontroversi dan skandal versi dirinya. Skandal pencalonan Gibran, intervensi pada Mahkamah Konstitusi, Pelemahan KPK, proyek PSN dan IKN, ambisi dinasti politik, PSI, rekonsiliasi dengan Prabowo, hingga cawe-cawe Pemilu 2024, tidak tereksplorasi dengan baik. Problem wawancara Bocal kali ini bukan mengedepankan bocoran jurnalistik, tapi memfasilitasi Jokowi untuk bertutur dan berkilah.

Bocal yang biasanya nakal menjadi takzim terhanyut mengikuti gaya komunikasi simple-minded Jokowi. Soal dinasti politik, Jokowi membantah praktek manipulasi kekuasaan ini dengan menyatakan tidak ada  "surat sakti". Soal pencalonan Gibran sebagai wapres, cuma soal  "Prabowo yang duluan minta". Soal intervensi terhadap MK,  "Saya tidak pernah memberikan perintah langsung." Berbagai jawaban ngasal dan non-argumentatif Jokowi ini menyihir Bocal.  Sehingga tidak merasa perlu mengonfrontasi dan menguji klaim-klaim banal ini.

Pertanyaan, "apakah bapak membangun dinasti politik?" Pasti dijawab "Tidak." Ini seperti bertanya pada pencuri, apakah anda mencuri? Politik kekuasaan bekerja melalui jaringan, loyalitas, kedekatan, kepentingan, uang, insentif jabatan atau tekanan. Bocal tidak sadar memberi ruang rehabilitasi untuk Jokowi,

Wawancara  Bocal  memunculkan kesan "Jokowi masih orang yang sama seperti dulu". Sederhana, merakyat, cengengesan. Bukan politikus ambisius yang kecanduan kekuasaan. Sebuah orkestrasi restorasi persepsi, sengaja atau tidak, dilakukan Bocal. Mengingatkan cover laporan utama majalah Tempo, edisi Oktober 2014,  Jokowi sebagai "tukang kayu" dengan slogan: kerja, kerja, kerja.

Beberapa tahun setelah cover "tukang kayu" itu, Jokowi jelas banyak berubah. Ia bermetamorfosa menjadi "Leviathan" politik di Indonesia, dengan syahwat kuasa, kuasa, kuasa. Ia defacto adalah mantan presiden dua periode; ayah wakil presiden; ayah ketua partai politik, mertua gubernur. Jaringan politiknya di kepolisian, kejaksaan, Parpol dan birokrasi masih solid. Ia berambisi  menyusun konfigurasi politik menuju 2029, sebagaimana ia sukses dengan proyek keberlanjutan pada 2024. Ia tanpa etika dan rasa malu menggelar safari politik untuk berkampanye, tiga tahun sebelum Pemilu..

Ditengah kegaduhan politik akibat kontroversi proyek pemerintah dan Prabowo sering "salah omon-omon", Bocal mengemas wawancara podcast dengan judul "Manuver Politik dari Solo". Dilengkapi laporan utama majalah Tempo "Ancang-ancang Jokowi". Wawancara Bocal dan cover story Tempo seolah menjadi orkestrasi  untuk mengembalikan Jokowi ke persepsi yang ia inginkan.

Sedikitnya, di tengah berbagai problem kenegaraan, Bocal dan Tempo ikut menentukan siapa yang dianggap penting dalam realitas politik hari-hari ini.  Seorang politikus ditempatkan di sampul majalah, diwawancarai secara eksklusif, dan diberi ruang  untuk berbicara, Bocal dan Tempo sedang melakukan apa yang dalam studi komunikasi dinamai agenda setting. Apa dan siapa yang layak dipikirkan dan diperhatikan publik.

Bocal dan Tempo mengajak publik memikirkan: Jokowi dan pilpres 2029, secara prematur. Seolah-olah Ia cuma aktor politik yang "ancang-ancang bermanuver" untuk Pemilu 2029. Bukannya mantan presiden kontroversial, penuh skandal, yang layak dibongkar sepak terjang politiknya, termasuk kontroversi ijazahnya.

Bocal dan Tempo dikenal sebagai  media yang keras mengkritik berbagai aspek penyalahgunaan kekuasaan Jokowi. Namun diwawancara kali ini Bocal menghadirkan Jokowi sebagai sosok politikus generik,  yang siap ancang-ancang dan bermanuver politik. Publik tentu tidak menuntut Bocal dan Tempo lantang menyerang Jokowi. Jurnalisme tidak membutuhkan amarah, tapi memerlukan disiplin epistemik, untuk tidak menerima begitu saja narasi dan retorika politikus bermasalah.

Bocal dari "Bocor Alus" menjadi "Corong Alus".  Alih-alih  membocorkan info dan intrik politik kekuasaan. justru memberikan corong mikrofon agar Jokowi bisa ngomong sesukanya tanpa dikonfrontir, demi menarik atensi dan simpati. Pertanyaan yang menggelayut, mengapa Jokowi sekarang membuka pintu untuk Bocal (Tempo)? Dan mengapa perlu dua kali sesi wawancara, off dan on the record?

Dan untuk apa pula aksi-aksi promosi, spoiler, via medsos. Tim Bocal Tempo datang dengan suka cita,  berkunjung ke rumah Jokowi, seperti para termul datang untuk memuja junjungannya? Apa yang diperoleh publik dari wawancara dan aksi  promos itu? Dan apa yang diperoleh Jokowi dari wawancara itu? Tidak ada info bocoran apapun yang menarik, selain tumpahan ucapan Jokowi. Ini bukan wawancara investigatif untuk membongkar sesuatu yang disembunyikan Jokowi. Ini audiensi.

Jokowi dulu dipromosikan Tempo, saat bertarung  di Pemilu 2014, dengan misi mencegah Prabowo berkuasa. Kini misi dan agenda apa yang ditawarkan Tempo? Alih-alih membongkar berbagai manipulasi era kekuasaannya, justru  menyediakan waktu dan halaman untuk Jokowi merehabilitasi persepsi. Mengubah jurnalisme dari ruang interogasi pada manipulasi, menjadi panggung rehabilitasi.  Menjadi Corong Alus Jokowi.

30 Agustus 2026.


Bagikan

KOMENTAR (0)

Alamat Email anda tidak akan ditampilkan. Wajib diisi untuk kolom *

Berita Terkini

Bupati Lembata Resmikan Pemanfaatan Sumur Bor, Perkuat Kesiapsiagaan Hadapi Kekeringan

Peresmian tersebut menjadi salah satu langkah nyata pemerintah daerah dalam menjawab kebutuhan mendasar masyarakat terha

| Minggu, 30 Agustus 2026
KISRUH UMRAH JOMBANG! Travel Bantah Keras Tuduhan, Sebut Tiket Sudah Disiapkan

PT Annisa Ahmada Travelindo menegaskan: tiket telah disiapkan, pihak travel telah berada di bandara, dan perusahaan meny

| Minggu, 30 Agustus 2026
Bupati Lembata Serahkan SK Kepala Sekolah dan Guru, Tegaskan Jabatan Bukan Akhir Pengabdian

Dalam arahannya, Bupati Kanis Tuaq menegaskan bahwa jabatan kepala sekolah bukan sekadar posisi administratif, melainkan

| Sabtu, 29 Agustus 2026
Akhiri Ketidakpastian Pengukuran Tanah, BPN Lembata Luncurkan Sistem FIFO Terjadwal

Pengukuran bidang tanah, yang menjadi salah satu tahapan penting dalam menghasilkan data pertanahan, kini dikelola berda

| Jumat, 28 Agustus 2026
Bantuan Nelayan & Pangan Diserahkan, Bupati Lembata Buka Konektivitas dan Pariwisata Baru di Kedang

Dalam sambutannya, Bupati menegaskan program ini bukan sekadar bantuan sosial, melainkan instrumen stabilitas pangan dan

| Kamis, 27 Agustus 2026
DPW SULSEL ELANG MAS Baramakassar Desak Polda Jambi: Jangan Ada Lagi Kekerasan terhadap Jurnalis

Ketua Komunitas Media Online Baramakassar sekaligus Humas JAMIRA, Arfah Amiruddin (Bara Makassar), meminta aparat kepoli

| Kamis, 27 Agustus 2026
Indeks Berita
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2026 Indonesia Surya
Allright Reserved
CONTACT US Lembata
Lembata, Nusa Tenggara Timur
Telp: +6281334640390
INDONESIA SURYA
Viewers Now: 7