Indonesiasurya.com, Lembata, — Air mata haru tumpah di Panggung Festival Lamaholot Lembata 2025 pada Kamis (9/10) malam Ketika sekelompok siswa dari SD Inpres 1 Lewoleba menampilkan kisah legendaris “Batu Atadei.” yang memukau.
Penampilan ini menjadi salah satu momen paling berkesan dalam perayaan budaya yang menampilkan kekayaan tradisi Lamaholot di Kabupaten Lembata.
Di panggung tersebut, anak-anak tampil bukan sekadar memerankan sebuah legenda, melainkan menyalakan kembali nyala ingatan kolektif sebuah etnis kecil di Lembata.
Melalui kisah Batu Atadei, mereka menuturkan kembali duka yang berubah menjadi legenda, dan legenda yang menjadi akar identitas.
Dengan langkah kecil, gerak tangan sederhana, dan suara jernih, mereka menghadirkan kisah tentang kerja, cinta, kehilangan, serta metamorfosis manusia menjadi batu—simbol abadi kesetiaan dan penyesalan.
Pertunjukan yang dipadukan antara tari, dialog, dan nyanyian tradisional ini menjadi salah satu sorotan utama festival.
Di bawah bimbingan para guru, anak-anak SD Inpres 1 Lewoleba berhasil menggambarkan kehidupan para petani di pedalaman yang tekun bekerja hingga datang bencana besar: laut menggulung daratan, suara pentungan tanda bahaya bergema, dan kepanikan memisahkan dua saudara.
Dalam kepanikan itu, Peni—sang adik—menoleh ke belakang dan seketika berubah menjadi batu. Tangis kakaknya menandai lahirnya legenda Batu Atadei, yang hingga kini menjadi ikon wisata sekaligus warisan cerita rakyat di Kecamatan Atadei, Kabupaten Lembata.
Batu Atadei: Batu yang Menyimpan Air Mata
Lebih dari sekadar pertunjukan, kisah Batu Atadei menjadi cermin kebijaksanaan hidup masyarakat Lamaholot yang memuliakan kerja, kasih, dan alam. Batu yang Menyimpan Air Mata menjadi simbol keterikatan manusia dan alam dalam kesetiaan dan duka.
Batu itu bukan sekadar benda beku, melainkan wujud kasih seorang adik yang tak sempat berpaling dan cinta seorang kakak yang kehilangan.
Kisah ini mengandung pesan mendalam tentang pentingnya menghormati kekuatan alam serta menjaga harmoni dengan ciptaan.
Bencana yang terjadi bukan sekadar hukuman, tetapi peringatan agar manusia hidup selaras dengan alam yang memberi kehidupan.
Nilai-nilai ini sejalan dengan filosofi hidup masyarakat Lamaholot:
“Belajar dari tanah, berteduh pada batu, dan bersyukur pada laut.”
Relevansi kisah ini semakin kuat ketika anak-anak SD Inpres 1 Lewoleba menuturkannya di panggung.
Mereka tidak hanya menghidupkan kembali legenda, tetapi juga menafsirkan ulang makna batu sebagai penjaga memori dan simbol keteguhan identitas. Dari tangan kecil mereka, Batu Atadei bukan lagi sekadar cerita rakyat yang terpendam, melainkan suara baru yang mengingatkan kita bahwa kearifan lokal adalah sumber pendidikan karakter yang tak ternilai.
Kepala Sekolah SD Inpres 1 Lewoleba, Yuliana Lipa, S.Pd, menyampaikan apresiasi mendalam terhadap semangat anak-anak yang tampil penuh penghayatan.
“Melalui pertunjukan ini, kami ingin menanamkan rasa cinta budaya sejak dini. Anak-anak belajar bukan hanya tentang seni dan sejarah, tetapi juga tentang kasih persaudaraan, kerja keras, dan kesetiaan terhadap nilai-nilai luhur Lamaholot,” ujarnya dengan bangga.
Pertunjukan ini membuktikan bahwa pendidikan budaya dapat menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini.
Anak-anak itu menjelma menjadi penjaga memori leluhur, menegaskan bahwa warisan budaya bukan benda mati, melainkan napas yang harus terus dihidupkan. Dari bibir mereka, legenda lama kembali bernyanyi; dari mata mereka, kita belajar bahwa budaya lokal adalah cermin jiwa manusia yang berakar pada tanah dan lautnya sendiri.
Melalui Batu Atadei, generasi muda SD Inpres 1 Lewoleba telah menyampaikan pesan kuat: setiap batu menyimpan kisah, setiap air mata punya makna, dan setiap anak adalah pewaris ingatan yang mesti dijaga.
Di tangan mereka, kisah lama menemukan kehidupan baru—menjadikan Lembata bukan sekadar tanah legenda, tetapi rumah bagi harapan dan kearifan yang tak lekang oleh zaman. (Hans/Red)