Ungkap Realita Sosial

Logo Banggainesia
Local Edition | | Todays News


HUT ke-27 Otonomi Lembata: Ketua DPRD Syafrudin Sira ; "Otonomi hanya judul namun, isinya nyaris tak ada"

Kita belum menjiwai secara penuh otonomi ini. Semangat Taan Tou — satu rasa — belum kita lakukan secara maksimal." Ungkap Syafrudin Sira

Indonesiasurya
Senin, 12 Oktober 2026 | 14:51:40 WIB
Ketua DPRD Lembata Syafrudin Sira

LEWOLEBA, INDONESIASURYA.COM — Memperingati 27 tahun berdirinya Kabupaten Lembata sebagai daerah otonom, Ketua DPRD Lembata, Syafrudin Sira, menyampaikan catatan kritis mendalam. Ia menegaskan, otonomi daerah saat ini ibarat "hanya judul, namun isinya nyaris tak ada lagi."

Kewenangan Ditarik Pusat, Daerah Semakin Terbatas

Syafrudin menyoroti kebijakan Pemerintah Pusat yang secara bertahap menarik kembali berbagai kewenangan daerah. Melalui Instruksi Presiden No. 1 Tahun 2025 tentang Efisiensi, banyak urusan yang sebelumnya dikelola daerah kini ditarik ke pusat, misalnya perikanan, pertambangan dan hanya menyisakan urusan pajak dan retribusi.

"Kran yang dibuka secara luas ternyata menimbulkan raja-raja kecil di daerah, sehingga sebagian kewenangan ditarik kembali. Seperti perikanan dan pertambangan. Kini yang tersisa hanya pajak dan retribusi. Dan inilah yang membuat kita begitu sulit karena hanya menanti anggaran dari pusat. Misalnya anggaran kesehatan sudah 20% , demikian juga anggaran pendidikan lantas bagaimana dengan infrastruktur?"

Anggaran Menyusut, Beban Meningkat

Kondisi fiskal daerah pun terasa semakin berat. Udin mengungkapkan bahwa, saat pertama kali dilantik, APBD Lembata masih di angka 900 miliar lebih, namun kini tinggal 700 miliar. Selisih ratusan miliar rupiah telah ditarik ke pusat. Belum lagi pinjaman daerah ke PT SNI sebesar 200 miliar lebih, yang setelah dievaluasi, tetap menyisakan kekurangan anggaran.

"Dari pusat saja anggaran sudah ditentukan penggunaannya. Sementara kebutuhan di lapangan terus bertambah. Ini bukan masalah Lembata saja, ini masalah nasional," ujarnya.

Semangat "Taan Tou" Belum Sepenuhnya Hidup

Syafrudin juga mengingatkan soal semangat persatuan lokal:

"Kita belum menjiwai secara penuh otonomi ini. Semangat Taan Tou — satu rasa — belum kita lakukan secara maksimal."

Ia menegaskan, hal-hal mendasar seperti air bersih, jalan, dan listrik harus dievaluasi kembali. Sektor unggulan yang diandalkan belum terbukti mampu menggerakkan ekonomi masyarakat secara nyata.

Lindungi Pengusaha Lokal, Tertibkan yang Nakal

Pemerintah diminta lebih tegas:

- Melindungi pengusaha kecil dan lokal

- Menertibkan pengusaha besar yang menyalahgunakan fasilitas negara

"Contohnya: ada yang memanfaatkan Tol Laut bersubsidi, tapi justru menjual barang dengan harga tinggi kepada masyarakat. Ini yang harus ditindak tegas."

Lembata Butuh "Diagnosa" yang Tepat

Secara keseluruhan, Syafrudin menyimpulkan dua hal krusial yang harus segera ditangani:

1. Pusat perlu meninjau kembali penarikan kewenangan agar daerah tidak kehilangan ruang bergerak

2. Pemerintah Daerah harus lebih kreatif menghadapi tekanan fiskal yang semakin berat

"Lembata saya ibaratkan tubuh manusia yang sedang menderita penyakit komplikasi. Harus didiagnosa dengan tepat, baru diobati dengan benar. Jangan hanya diberi obat pereda sementara — kita butuh penyembuhan yang sesungguhnya untuk kemajuan Lembata ke depan."


Bagikan

KOMENTAR (0)

Alamat Email anda tidak akan ditampilkan. Wajib diisi untuk kolom *

Berita Terkini

"Otonomi Harus Dirasakan Sampai ke Desa" — Lukman Laba Soroti Perayaan yang Terasa Jauh dari Masyarakat

Lukman menutup dengan harapan agar otonomi benar-benar hidup di hati setiap masyarakat, dari kota hingga ke desa-desa pa

| Senin, 12 Oktober 2026
Fransiskus Gewura akui, 27 Tahun Otonomi Lembata ada Kemajuan, tinggal Fokus ke Ekonomi Masyarakat

Poin tak kalah penting yang disampaikan Frans Gewura adalah menjaga keamanan dan ketertiban agar Lembata menjadi daerah

| Senin, 12 Oktober 2026
Mesin Pengolahan Jagung Beroperasi, Bupati Kanis Tuaq: Mulai dari yang Kecil, Bangkit dari Keterbatasan

"Sesuatu yang besar harus memulai dari yang kecil. Sesuatu yang sukses harus menghadapi masalah dan kendala. Jarang oran

| Sabtu, 10 Oktober 2026
Wisuda XXVIII Unipa Maumere: Luluskan 708 Sarjana, Rektor Pesan Jangan Jadi "Sarjana Kertas"

"Berkarya berarti ilmu tidak berhenti sekadar teori, tetapi hidup dalam kebersamaan. Berinovasi butuh keberanian mencipt

| Sabtu, 10 Oktober 2026
FORMASI KAWAL KESEPAKATAN RDP BBM BERSUBSIDI PINRANG: HAK RAKYAT HARUS DIJAGA

“Kami tidak ingin kesepakatan ini berhenti di ruang rapat. Satgas bersama seluruh unsur terkait harus mengawal pelaksa

| Kamis, 08 Oktober 2026
Indeks Berita
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2026 Indonesia Surya
Allright Reserved
CONTACT US Lembata
Lembata, Nusa Tenggara Timur
Telp: +6281334640390
INDONESIA SURYA
Viewers Now: 12