LEWOLEBA, INDONESIASURYA.COM— Ketua Fraksi Gabungan DPRD Lembata sekaligus Anggota Partai Kebangkitan Nusantara (PKN), Lukman Laba, menyampaikan catatan penting di tengah peringatan HUT ke-27 Otonomi Daerah Lembata. Ia menegaskan bahwa makna otonomi belum sepenuhnya menjangkau masyarakat di pelosok desa.
Perayaan Terasa Hanya di Kota, Anak Sekolah Tak Tahu Sejarah
Lukman menyoroti bahwa peringatan hari otonomi saat ini dirasakan jauh dari masyarakat pedesaan. Upacara lebih banyak dihadiri Camat dan sesepuh kampung yang datang ke kabupaten, sementara siswa di sekolah-sekolah desa tidak memahami apa itu otonomi dan perjuangan di baliknya.
"Masyarakat di pelosok tidak tahu ada perayaan HUT otonomi ke-27. Gerakan ini harus juga dirayakan oleh anak-anak sekolah. Mereka mungkin tidak tahu sejarah otonomi, maka pemerintah harus menggaungkan kembali perjuangan otonomi ini."
Ia bahkan menegaskan dengan nada kecewa:
"Kalau seperti ini, mendingan dulu kita tetap saja dengan Flores Timur. Kalau hari ini kita tidak bisa menghargai perjuangan para pendahulu, untuk apa otonomi ini?"
Evaluasi Potensi Pendapatan Daerah
Pemerintah juga diminta melakukan evaluasi menyeluruh terhadap potensi pendapatan daerah. Banyak kebijakan dan kewenangan yang kini ditarik kembali ke pemerintah pusat, sehingga ruang gerak daerah dalam mengelola keuangannya semakin terbatas.
Program Harus Berlanjut, Tak Terputus Ganti Pimpinan
Poin tak kalah penting yang disampaikan Lukman adalah soal kesinambungan pembangunan. Pergantian kepemimpinan tidak boleh berarti pergantian program secara sembarangan. Estafet kepemimpinan harus mencakup juga estafet program kerja dan perjuangan membangun Lembata, bukan memulai dari nol setiap kali ada pergantian pemimpin.
"Ada kesinambungan satu program ke program yang lain. Estafet bukan hanya jabatan pemimpin, tetapi juga program kerja dan perjuangan membangun Lembata yang lebih baik."
Lukman menutup dengan harapan agar otonomi benar-benar hidup di hati setiap masyarakat, dari kota hingga ke desa-desa paling jauh.