Indonesiasurya.com - Kapal Ratu Rosari sebuah cerita tentang pengorbanan, doa dan jawaban atas harapan masyarakat nusa tenggara. Lajunya membelah laut luas , meninggalkan cerita pada kisah kapal yang menjadi pemenuhan mimpi banyak orang.
Ratu Rosari Kapal yang pernah membawa harapan ke Nusa Tenggara.
Dulu, sebelum transportasi semudah sekarang, ada sebuah kapal yang mengarungi laut Nusa Tenggara Timur (NTT) membawa para misionaris, pelajar, dan masyarakat.
Namanya KM Ratu Rosari. Namun, di balik layarnya yang membelah ombak, tersimpan banyak kisah indah dan pengabdian luar biasa seorang misionaris yang mendedikasikan hidupnya untuk kapal ini hingga akhir hayatnya.
Saksi Bisu Karya Misi di Lautan NTT
KM Ratu Rosari mulai beroperasi sekitar tahun 1964 dan menjadi bagian penting dari karya misi di wilayah Nusa Tenggara.
Pada masa itu, ketika transportasi antar pulau masih sangat terbatas, laut adalah satu-satunya jalan utama. Ratu Rosari menjadi jembatan penghubung antara Surabaya dengan berbagai wilayah di NTT.
Kapal misi itu, tidak hanya membawa para imam, suster, dan bruder tapi juga, pelajar, mahasiswa dan masyarakat umum dari satu pulau. ke pulau lainnya
Kapal ini juga dikenal sebagai "gereja terapung". Di dalamnya terdapat kapel, altar, dan sakristi.
Ketika ada imam di atas kapal, Perayaan Ekaristi (Misa) dapat terus dirayakan di tengah pelayaran meski, di luar hanya terbentang luasnya laut dan langit.
Bruder Marianus Klein-Koerkamp, SVD : Pengabdian hingga Napas Terakhir
Di balik perjalanan panjang Ratu Rosari, ada sosok menyentuh yang mendedikasikan hidupnya: Ia adalah Bruder Marianus Klein-Koerkamp, SVD.
Bruder asal Jerman ini mengabdikan diri dalam karya misi di Indonesia dan memegang peranan penting dalam perawatan mesin Ratu Rosari.
Bertahun-tahun ia merawat kapal tersebut hingga sangat mengenal setiap detail mesinnya, bahkan perubahan kecil pada suara mesin pun dapat ia rasakan.
Bagi para awak kapal, ia bukan sekadar teknisi, melainkan seorang misionaris yang mempertaruhkan seluruh tenaga, keahlian, dan hidupnya untuk pelayanan.
Kisah mengharukan terjadi: dalam sebuah pelayaran dari Surabaya menuju NTT, Bruder
Marianus menghembuskan napas terakhirnya di atas kapal yang bertahun-tahun ia rawat.
Perjalanan hidupnya ditutup di atas kapal yang menjadi bagian dari pengabdian sucinya.
Kapal Ratu Rosari merupakan warisan, juga jawaban atas harapan.
Kisah Ratu Rosari bukan sekadar tentang sebuah kapal, melainkan tentang manusia- manusia yang memberikan hidupnya untuk sesama di daerah terpencil- membawa iman, pendidikan, dan kesehatan tanpa pamrih.
Seiring berjalannya waktu, tingginya biaya operasional membuat kapal ini akhirnya dijual kepada pihak swasta, dan jejaknya kini perlahan menjadi samar. Namun, seandainya suatu hari Ratu Rosari berhasil ditemukan
kembali, alangkah indahnya.
Seandainya Pemerintah Daerah (Pemda Atambua) bersama masyarakat dapat bergandengan tangan menyelamatkan kapal
bersejarah ini. Informasi terakhir kapal bersejarah itu kini berada di Timor leste
Dukungan Pemda Atambua agar kapal tersebut dapat diwujudkan kembali sebagai museum
terapung di teluk Gurita yang sarat akan nilai edukasi bisa menjadikan salah satu paket wisata rohani dengan Patung Bunda Maria di teluk Gurita Dengan begitu, generasi muda dapat masuk ke dalam kapal, melihat langsung kapel tempat Misa dahulu dirayakan, serta mengenal perjuangan para misionaris.
Mungkin Ratu Rosari sudah tidak lagi berlayar di lautan lepas, tetapi seandainya ia dihadirkan
kembali sebagai museum terapung, kapal itu akan terus "berlayar" mengarungi ingatan dan hati generasi demi generasi.
Terima kasih kepada para imam, suster, bruder, awak kapal, dan semua misionaris yang dahulu telah mendedikasikan seluruh hidup mereka untuk Nusa Tenggara. Ratu Rosari bukan hanya sebuah kapal. la pernah membawa harapan.