Nagawitung – Merah Putih berkibar di bawah langit Nagawutung. Lagu-lagu perjuangan bergema, sementara peserta upacara berdiri khidmat memenuhi Lapangan Kantor Camat Nagawutung, Senin (17/8/2026). Namun, di tengah kemeriahan peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, terselip ruang hening untuk mengenang mereka yang sedang berduka.
Upacara Detik-Detik Proklamasi tingkat Kecamatan Nagawutung tahun ini tidak semata menjadi perayaan kebangsaan. Di tengah semangat “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”, perayaan kemerdekaan juga menjadi momentum untuk menumbuhkan solidaritas, mendoakan para korban bencana di Flores, mengenang seorang mantan pemimpin Lembata yang telah berpulang, sekaligus menyuarakan bela rasa melalui puisi.
Camat Nagawutung Vitalis Hubertus Wajo, S.Sos, yang bertindak sebagai Inspektur Upacara, sebelum membacakan pidato Bupati Lembata, mengajak seluruh peserta menundukkan hati dan mendoakan para korban gempa bumi yang mengguncang Pulau Flores pada 15 Agustus 2026.
Doa dipanjatkan agar para korban dan keluarga yang terdampak memperoleh kekuatan, ketabahan, dan perlindungan. Harapan yang sama ditujukan bagi seluruh proses evakuasi,
penanganan darurat, hingga pemulihan agar dapat berlangsung dengan baik.
Pada kesempatan yang sama, peserta upacara juga diajak mendoakan Drs. Sinun Petrus Manuk, mantan Penjabat Bupati Lembata periode 2016–2017, yang meninggal dunia di Jakarta sehari sebelumnya. Doa dipersembahkan agar almarhum memperoleh keselamatan kekal dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan serta penghiburan.
Ajakan tersebut menghadirkan wajah lain dari sebuah perayaan kemerdekaan. Di balik gegap gempita, kibaran Merah Putih, dan lagu-lagu perjuangan, kemerdekaan menemukan maknanya ketika manusia mampu keluar dari dirinya sendiri, merasakan penderitaan sesama, dan berdiri bersama mereka yang sedang kehilangan.
Meriah, tetapi Tidak Kehilangan Empati
Kesan mendalam terhadap perayaan tahun ini juga disampaikan Sekretaris Camat Nagawutung Petrus Yohanes Layir, S.Sos, dan Kepala Desa Penikene Rofinus Pekot, ketika ditemui awak media seusai upacara.
Menurut mereka, pelaksanaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI tingkat Kecamatan Nagawutung tahun ini terasa berbeda karena dikemas secara lebih terpadu dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat.
“Seluruh rangkaian acara sejak awal hingga selesai berlangsung dengan baik, padu, dan lengkap. Baru kali ini rangkaian kegiatan di tingkat kecamatan dikemas dengan begitu lengkap dan terpadu,” ungkap mereka.
Kemeriahan tersebut terlihat dari keterlibatan berbagai unsur masyarakat, pemerintah, pelajar, serta kelompok-kelompok yang mengambil bagian dalam rangkaian kegiatan. Penampilan paduan suara dan berbagai suguhan lainnya semakin menghidupkan suasana perayaan.
Namun, menurut mereka, kegembiraan itu tidak membuat Nagawutung kehilangan kepekaan terhadap penderitaan sesama.
“Di tengah suasana kemeriahan dan kegembiraan, kita tetap menyelipkan doa-doa bagi saudara-saudari kita yang terdampak bencana gempa bumi di Flores. Hal itu juga telah disampaikan secara langsung oleh Bapak Camat Nagawutung sebagai bentuk solidaritas dan empati kita kepada para korban,” ujar mereka.
Bagi keduanya, perayaan kemerdekaan dan kepedulian kemanusiaan tidak harus dipertentangkan. Kegembiraan tetap dapat dirayakan tanpa menutup mata terhadap mereka yang sedang berduka.
“Kita semua adalah bagian dari Flores. Karena itu, penderitaan yang mereka alami juga menjadi keprihatinan dan duka kita bersama,” demikian pesan yang mengemuka dari keduanya.
Ketika Puisi Menjadi Suara Bela Rasa
Nuansa kemanusiaan dalam perayaan itu semakin kuat melalui dua puisi karya Thomas Krispianus Swalar. Dua karya berjudul “Tanah Kami, Menangis Lagi” dan “Cintaku Untukmu Lembata” membawa peserta dari gegap gempita perayaan menuju ruang permenungan tentang duka, cinta, dan harapan.
Puisi “Tanah Kami, Menangis Lagi” lahir dari kegelisahan terhadap rentetan bencana yang melanda Flores. Luka akibat aktivitas Lewotobi dan Ile Lewotolok belum sepenuhnya pulih ketika gempa kembali mengguncang sejumlah wilayah di Flores.
Dalam puisi itu, bencana tidak sekadar hadir sebagai peristiwa alam. Ia menjelma menjadi pengalaman manusia: kehilangan orang-orang tercinta, rumah yang runtuh, kehidupan di pengungsian, serta kecemasan terhadap masa depan anak-anak.
Penyair bahkan menghadirkan sebuah pertanyaan yang sederhana tetapi menggugah nurani: apakah esok mereka masih dapat tersenyum dan adakah hati yang tergerak untuk berbagi?
Ratapan itu kemudian bermuara pada doa. Kepada Tuhan, penyair menitipkan mereka yang kehilangan orang-orang tercinta, mereka yang kehilangan tempat bernaung, serta mereka yang harus bangkit dari puing-puing kehidupan.
TANAH KAMI, MENANGIS LAGI
Oleh: Thomas Krispianus Swalar
Tuhanku....Cobaan apa lagi yang Engkau berikan Luka belum sembuh karena luapan lahar
Lewotobi dan Ile Lewotolok...Kini, gempa mengguncang negeri kami, amat dahsyat Saat malam terlalu pagiDan pagi datang menyapa Ada ratap tangis yang menyayat kalbu
Tuhanku....Duka itu datang lagi Tak henti kami menerima cobaan itu Inikah pertanda teguran-Mu Lewat gempa yang dahsyat Dari Flores Barat, Ngada, Nagekeo, Ende, dan Sikka Kini mereka terbangun di kamp pengungsian Anak-anak terhentak diam Adakah esok mereka masih tersenyum??? Adakah hatimu terdetak, sekadar berbagi untuk mereka....
Tuhanku....Kami tak berdaya di hadapan-Mu Kami tak mampu menepis derita ini Kami pasrah
Tuhanku....Kuatkan mereka Yang kehilangan orang-orang tercinta Tertimbun reruntuhan bangunan Tabahkan hati merekaYang kehilangan rumah tempat bernaung
Tuhanku....Teguran-Mu terlalu dahsyat Kami hanya terdiam membisu Kami berserah diri Hanya kepada-Mu
Loang, 16 Agustus 2026
Dari Ratapan Flores, Cinta Mengalir untuk Lembata
Jika “Tanah Kami, Menangis Lagi” menjadi ratapan dan doa untuk Flores, puisi “Cintaku Untukmu Lembata” mengarahkan pandangan kembali kepada tanah tempat masyarakat Nagawutung berpijak: Lembata.
Lembata digambarkan bukan sekadar sebagai bentangan geografis, tetapi sebagai rumah, ruang kehidupan, dan tanah yang membentuk karakter masyarakatnya.
Di bawah bayang-bayang Ile Lewotolok, kehidupan tumbuh berdampingan dengan kekuatan alam. Batu hitam, panas, debu, dan kerasnya kehidupan tidak mematikan harapan. Sebaliknya, semuanya turut menempa ketabahan manusia Lembata.
Dari gunung, pandangan penyair bergerak menuju Lamalera. Laut, perahu, Lamafa, dan tempuling hadir sebagai gambaran tentang keberanian sekaligus hubungan manusia dengan alam dan tradisi berbagi yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Lembata juga hadir melalui perbukitan, tenun ikat yang melingkari bahu para ibu, hingga senyum anak-anak di pelosok. Pada mata anak-anak itulah harapan menemukan tempatnya: bahwa keterbatasan tidak boleh memadamkan mimpi tentang masa depan.
Kecintaan kepada Lembata pada akhirnya menjelma menjadi sebuah janji untuk terus mengingat, mencintai, menjaga, dan merawat tanah kelahiran. Sebab Lembata bukan sekadar tempat seseorang dilahirkan, tetapi rumah bagi ingatan, kebudayaan, perjuangan, dan harapan.
Kemerdekaan yang Memiliki Hati
Dua puisi tersebut pada akhirnya bertemu pada satu pesan yang sama. “Tanah Kami, Menangis Lagi” berbicara tentang luka, doa, dan solidaritas, sementara “Cintaku Untukmu Lembata” menyuarakan cinta, keteguhan, dan pengharapan.
Yang satu mengajak mata memandang penderitaan saudara-saudari di Flores. Yang lain mengajak hati kembali mencintai tanah Lembata.
Keduanya seolah menegaskan bahwa tanah air tidak cukup hanya dicintai ketika ia sedang indah dan bergembira. Tanah air juga harus dipeluk ketika ia terluka.
Pesan itulah yang memberi warna tersendiri bagi peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Kecamatan Nagawutung. Di balik kibaran Merah Putih, busana wastra Nusantara, lagu-lagu perjuangan, paduan suara, dan berbagai suguhan seni, ada doa bagi korban bencana, penghormatan bagi seorang mantan pemimpin daerah yang telah berpulang, serta suara puisi yang mengetuk kesadaran kemanusiaan.
Dari Lapangan Kantor Camat Nagawutung, kemerdekaan memperoleh tafsir yang sederhana tetapi mendalam: bersukacita bersama mereka yang bersukacita tanpa kehilangan kemampuan untuk menangis bersama mereka yang menangis.
Pada usia ke-81 Republik Indonesia, semangat “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur” dengan demikian tidak hanya berbicara tentang pembangunan dan kemajuan. Ia juga menemukan wujudnya dalam keberanian untuk saling menjaga, saling menguatkan, dan
memastikan mereka yang sedang terluka tidak berjalan sendirian.
Dari Nagawutung, doa mengalir untuk Flores. Dari Nagawutung, cinta dipersembahkan untuk Lembata. Dan dari Nagawutung pula, Merah Putih dikibarkan dengan satu keyakinan: dalam sukacita maupun duka, kita tetap satu Indonesia.
Dirgahayu ke-81 Republik Indonesia. Merdeka dalam persatuan, kuat dalam solidaritas, dan teguh dalam kemanusiaan. (Hans Koban)