GORONTALO, 2 Mei 2026 – Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kabupaten Gorontalo, Gunawan, membongkar kejanggalan klaim pemerintah terkait manfaat semu Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII.
GMNI menilai pernyataan Gubernur mengenai capaian bantuan bibit adalah bentuk manipulasi informasi yang mengklaim hak rutin petani sebagai hasil lobi seremonial.
Gubernur Jangan Melakukan Pembohongan Publik: Bibit Itu Hak Rutin, Bukan Hadiah PENAS!
Gunawan secara tegas menanggapi klaim Gubernur Gusnar mengenai bantuan bibit jagung sebesar 36.000 hektar.
Berdasarkan analisis data anggaran, bantuan tersebut adalah program reguler Kementerian Pertanian RI dalam rangka menjaga stok pangan nasional, mengingat Gorontalo adalah lumbung jagung Indonesia.
"Gubernur jangan membohongi rakyat dengan mengklaim hak rutin sebagai berkah PENAS. Tanpa ada PENAS pun, petani Gorontalo tetap akan menerima bantuan bibit tersebut karena sudah terplot dalam DIPA rutin Kementan setiap tahunnya. Mengaitkan bantuan rutin ini sebagai 'manfaat khusus PENAS' adalah bentuk penyesatan logika birokrasi demi kepentingan pencitraan politik semata!" tegas Gunawan.
Bedah Data Gaib: Di Mana Logistik 40 Kontainer Benih?
GMNI menantang pemerintah untuk menunjukkan transparansi distribusi fisik bantuan yang diklaim tersebut. Gunawan memaparkan hitungan teknis yang menunjukkan adanya ketidaksinkronan data yang nyata.
"Mari bicara data. Bantuan untuk 36.000 hektar itu membutuhkan sedikitnya 540 TON benih. Secara logistik, ini setara dengan mobilisasi 40 truk kontainer besar. Pertanyaannya: Siapa yang menerima? Di mana gudang penyimpanannya? Dan kapan disalurkan? Jika hingga hari ini aktivitas logistik sebesar itu tidak terlihat di lapangan, maka besar dugaan kami bahwa 36.000 hektar itu hanyalah 'Angka Gaib' di atas kertas untuk meredam kritik publik atas ketidaksiapan daerah menghadapi PENAS," lanjut Gunawan.
Pencitraan di Atas Lahan yang Hancur Lebur
GMNI mengingatkan Gubernur bahwa kondisi nyata di lokasi pelaksanaan saat ini justru sedang tidak baik-baik saja dan berbanding terbalik dengan narasi kesuksesan yang dibangun.
"Sangat miris melihat Gubernur bicara manfaat besar, sementara di lapangan padi dan jagung petani saat ini sedang hancur-hancuran terendam banjir. Padi itu punya masa tanam yang lama, tidak bisa disulap tumbuh dalam semalam demi menyenangkan tamu negara. Kegagalan mitigasi bencana di area PENAS membuktikan bahwa pemerintah lebih sibuk memoles panggung daripada mengurus drainase sawah rakyat yang kini tenggelam dan membusuk!"
Tuntutan Tegas DPC GMNI Kabupaten Gorontalo:
Transparansi Distribusi Benih: Menuntut Pemerintah Provinsi membuka data By Name By Address serta bukti logistik pengiriman 540 ton benih jagung untuk membuktikan klaim tersebut bukan fiktif.
Hentikan Manipulasi Opini: Mendesak Gubernur untuk jujur pada rakyat mengenai realitas distribusi bantuan tanpa harus bersembunyi di balik angka-angka program rutin pusat.
Tanggung Jawab atas Gagal Tanam: Meminta pemerintah memprioritaskan kompensasi bagi petani yang lahannya rusak akibat banjir di sekitar wilayah PENAS daripada menghamburkan anggaran untuk acara seremonial.
"Jika narasi pembohongan publik ini terus dipelihara, GMNI Kabupaten Gorontalo akan memastikan bahwa panggung PENAS nanti akan menjadi saksi perlawanan rakyat atas janji-janji palsu pemerintah daerah!" tutup Gunawan dengan tegas.
MERDEKA! GMNI JAYA! MARHAEN MENANG!